Tampilkan postingan dengan label persahabatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label persahabatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2013

The Birth of Kurawa(Java Version)


Destarastra was the brother from Pandu Dewanata, even he was blind, but his younger brother Pandu Dewanata really respect to him, so Pandu Dewanata was bring three beautiful princess(Dewi Madrim, Dewi Kunthi, Dewi Gendhari) and he should choose one from them.
Because he was blind, so Destarastra was lift them one by one, then he was choosing Dewi Gendhari because she was heavily from the others.
Destarastra was happy because he got Dewi Gendhari and he was hoping that Dewi Gendhari can give soooo much child to them, but Dewi Gendhari itself wasn’t happy with the wedded, she was jealous and angry because she was look like a gambling dice, she was thinking that the beautiful princess like her supposed to be had a handsome husband like Pandu Dewanata. But Dewi Gendhari mislaid all of her trouble in her heart, she was respecting her husband, Destarastra.
A few months later,  Dewi Gendhari was pregnant, it was making Destarastra more happier than before, but after three years had pass, Dewi Gendhari wasn’t give birth to Destarastra yet, there’s no sign, it was look like a dead weight, but Dewi Gendhari and Destarastra wasn’t give up, everyday they wasn’t forget to prey, specially Dewi Gendhari who really wants to had a many son and kill Pandu Dewanata’s child.
Someday, Dewi Gendhari decided to take a walk in the palace’s garden, she was really enjoying the garden until the sky became dark and the rain was starts falling down.
When Dewi Gendhari was walking back to the palace, suddenly there was a sound of big tiger and it was make Dewi Gendhari finnaly give birth to her child, all people who were there was waiting the expression from Dewi Gendhari… because it wasn’t a child like what Dewi Gendhari want! It was just something like a big meat that had a circle form, or something like a big stone, but it was had a little move and all people there was thinking that meat was alive, but Dewi Gendhari was kicking that meat and make that meat broken into a one hundred pieces then she fainted.
Dewi Gendhari was awake when the night come, then Batari Durga showed in front of Dewi Gendhari, he was telling that one hundred pieces from the meat will come alive as her son when the midnight come then Batari Durga disappeared.
When the midnight was come, all thing that Batari Durga said became truth, Dewi Gendhari was got one hundred sons and she and her husband was call them Kurawa

Selasa, 25 Desember 2012

Percy Jackson : Sea of Monsters


Film ini akan mulai tampil di dunia pada tanggal 16 Agustus 2013, cerita seru dan menarik dari Percy Jackson selalu membuat kita berkhayal dan nggak bakalan bosan deh!
Well, ini nih ringkasan ceritanya:

Ringkasan cerita
Percy Jackson bersama kawan-kawannya harus tetap memenuhi tujuan takdirnya, yaitu melindungi dan menyelamatkan rumah serta tempat latihan mereka(Camp Half-Blood) dari kehancuran dengan menggunakan ‘Golden Fleece’ yang mampu mengalahkan racun ‘Thalia’s poisoned tree’
Well, hal ini dimulai dari mimpi buruk Grover yang ditangkap oleh para Cyclop dan berakhir dengan suara keras  (berteriak) “MINE” awalnya Percy Jackson bingung mengenai hal ini, tetapi datanglah Annabeth(anak perempuan dari dewi Athena)yang menjelaskan arti dari mimpi tersebut dan mereka harus segera menemukan Golden Fleece
Dalam perjuangannya ini, Percy Jackson dan kawan-kawannya menerima bantuan dari Poseidon, sang dewa laut, sayangnya mereka sempat tertangkap Luke(anak buah Kronos), hmm sisi baiknya, mereka mengetahui rencana Luke yang berharga yaitu menghancurkan tuannya, Kronos, setelah mereka mengetahui cukup banyak, mereka kabur menggunakan perahu penyelamat dan mereka berusaha sampai ke sebuah pulau dimana teman Annabeth, Clarisse telah mengungkap rahasia dan menemukan Golden Fleece! Percy Jackson pun menyuruh Clarisse pergi ke rumah dan Percy Jackson beserta kawan-kawannya masih berjuang menyelamatkan dunia…

Nambah berita
Apa sih Golden Fleece itu? Kamu dapat melihatnya di tengah kota Batumi, Georgia yaitu  sebuah patung Medea yang memegang Golden Fleece di tangannya.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Surabaya 10 November, Pengorbanan Besar Arek Suroboyo

10 November telah dekat, sebagai bangsa yang menghargai jasa para pahlawan, maka sudah seharusnya mengetahui tentang peristiwa 10 November yang mengerikan ini dimana 6000 arek-arek Surabaya tewas dalam mempertahankan Negara dan kotanya tercinta.
Kejadian bisa diceritakan bermula pada tanggal 25 Oktober 1945 dimana Brigade 49 dibawah pimpinan Brigadir Jendral A. W. S Mallaby dengan ratusan orang personilnya tiba di pelabuhan terkenal Surabaya yaitu Tanjung Perak.
Awalnya mereka mengadakan kesepakatan yaitu:
  1. Sekutu (Inggris) berjanji mengikutsertakan Angkatan Perang Belanda
  2. Disetujui kerjasama kedua pihak untuk menjamin keamanan dan ketentraman
  3. Dibentuk kontak biro kerja sama
  4. Inggris melucuti tentara Jepang saja
Kesepakatan ini diterima baik oleh masyarakat Surabaya di bawah pimpinan Gubernur R.M.T.A Suryo dan wakil- wakil pemerintah RI lainnya.
Namun pada tanggal 26 Oktober 1945 pasukan Inggris melanggar perjanjian ini dengan serangannya ke penjara Kalisosok dan membebaskan tawanan Belanda secara tiba-tiba, karena tidak diduga, maka para penjaga dapat dikalahkan dan Inggris membawa para tentara Belanda.
Setelah melanggar perjanjian, Inggris menyebarkan pamflet agar rakyat Surabaya menyerahkan seluruh senjata mereka.
Tentu saja mereka tidak terima, karena harusnya Inggrislah yang bersalah telah mengingkari janjinya, maka rakyat Surabaya bersama TKR melumpuhkan tank-tank sekutu, objek-objek vital, menghancurkan pemusatan-pemusatan tentara Inggris, melumpuhkan logistiknya, dan membunuh jendral Mallaby pada tanggal 27 Oktorber 1945, kemenangan gemilang dengan banyak darah yang tertumpah.
Hal ini membuat Inggris yang diwakilkan oleh D.C Hawthorn menuntut pertanggungjawaban kepada rakyat Surabaya dan membuat Ir. Soekarno turun tangan dalam perundingan tanggal 29 Oktober di Surabaya.
Sayangnya perundingan ini hanya tipu belaka, Ir Soekarno meminta agar Inggris pergi saja atau berdamai dengan rakyat Surabaya, tetapi hal itu tidak diperhatikan Inggris yang terus meminta pertanggungjawaban.
Akhirnya tanggal 9 November, Inggris mengangkat Mayor Jendral E.C Mansergh sebagai pengganti Mallaby dan ia menyebarkan ultimatum agar rakyat Surabaya mau menyerah dengan mengibarkan bendera putih dan menyerahkan senjata dengan tangan di atas kepala.
Lho, Surabaya yang menang malah disuruh menyerah, seolah-olah mereka yang menang, tentu saja ini licik, jahat dan kebodohan yang dilakukan Inggris ini membangkitkan amarah rakyat Surabaya.
Gubernur Suryo dengan berani menolak ultimatum tersebut atas nama rakyat yang telah dirundingkan terlebih dahulu, dan tanggal 10 November 1945 Bung Tomo mengobarkan semangat rakyat Surabaya dengan pidatonya yang bersemangat dari radio di Jalan Mawar no 4.
Pertempuran pun terjadi, pasukan sekutu mengerahkan 10.000 orang dibantu dengan peralatan tempur yang canggih dari pesawat tempur ’Mosquito’ dan ’Thunderbolt’ juga kapal perang ’Sussex’
Nah, sebagai arek-arek Surabaya, hargailah jasa para pahlawanmu!!

Kamis, 25 Agustus 2011

Di Balik Tirai Biru


Tersirat kenangan di balik tirai biru yang teramat cantik menghiasi teras rumahku, membiaskan cahaya keemasan dari matahari senja yang tampak semu dibalik kerumunan awan.
Aku memandangi foto terakhirku bersama Vena di taman rumahku, dan juga saat kami berjalan-jalan menonton bioskop, tak terasa sudah sepuluh hari semenjak Vena meninggalkanku di sini sendirian, masih kuingat senyumannya yang selalu menemaniku dari balik tirai biru ini.
Aku tau ini yang terbaik untuknya, ia telah sangat menderita semenjak Kanker Uretra menyerangnya sekitar dua bulan yang lalu, pada saat itu Vena sedang dalam kondisi lemah dan sel kanker itu membuat ginjalnya meradang dan ia sangat kesakitan saat akan buang air kecil.
Semenjak itu, aku selalu bersamanya dan menemaninya siang dan malam, mengingat ia adalah anak yatim piatu dan ia tidak memiliki saudara yang mengunjunginya, bahkan aku sempat membolos hingga seminggu untuk menemaninya, dan mataku sudah membengkak akibat kurang tidur dan terlalu banyak menangis.
Doaku selalu terpanjat pada Tuhan Yang Maha Esa agar ia sembuh, tetapi tiap kali ia mulai kuat, kanker itu menyerangnya kembali, tetapi yang aku kagumi darinya adalah, ia tetap teguh berdoa dan memberikan senyuman termanisnya padaku, sayang, ia tidak memiliki banyak sahabat karena ia tidak terlalu lancar dalam berbahasa Indonesia dan bahasanya masih susah dimengerti oleh teman-teman sekelas kami.
Aku sangat menghargai usahanya untuk tetap bersamaku, menjaga agar ia selalu mendengar tawaku, dan aku semakin tidak kuat menahan air mataku tiap kali melihat badannya semakin tampak lemas terbaring di rumah sakit.
Setidaknya, aku bersyukur Vena mendapatkan askes dari asuransi ibunya yang kini pergi entah kemana.
Dan akhirnya, sepuluh hari yang lalu, aku mengikhlaskan ia pergi, tidak akan kutahan meski aku tidak rela, aku lebih tidak tega melihatnya dalam penderitaan ini.
Selamat tinggal Vena, kuharap kau tenang di sana...
:)

by: Kristina Andita Pradani

Mutiara Dibalik Pendar Kelabu


Tiada hari tanpa tangisan, luka yang selalu ada mengikuti kami berdua sepanjang waktu, memaksa kaki untuk berlari tanpa henti di daerah yang bahkan tidak kukenal udaranya, dinginnya tetesan air langit kerap kali membasahi kami, tetapi senyumnya tak pernah pudar, senyum dari sahabat terbaikku, satu-satunya harta yang kumiliki saat ini.
Hari ini bukanlah hari keberuntungan kami, sedetikpun kami tak bisa tidur hari ini, suara peluru berdesing di sekitar kami, hal terbaik hari ini adalah setidaknya kami menemukan sebuah gudang yang cukup aman, yah, itu menurut sahabatku, tetapi menurutku tetap saja mengerikan berada di sini.
Tiap detik terdengar tangisan baru, hatiku mulai diselimuti ketakutan menyeluruh, dan sahabatku segera memegang kedua tanganku ketika ia tahu aku mulai takut meski kurasakan hal yang sama menyelubunginya.
Mungkin... telah satu jam kondisi ini berlangsung dan beberapa orang mendobrak pintu gudang, secepat kilat kami berdua bersembunyi di dalam kotak kayu yang cukup sempit, tetapi tetap saja sahabatku tersenyum untuk menenangkanku.
Langkah dari sepatu boot berlumpur terdengar begitu menakutkan di telinga kami dan kurasakan mereka berdiri tepat di samping kotak kayu tempat kami bersembunyi, aku melihat sahabatku mulai menangis pelan sementara aku sendiri penuh dengan keringat dingin dan... secara tiba-tiba, mereka membanting kotak kayu tempat kami bersembunyi ke arah tembok yang cukup kokoh, sehingga pecah dan tinggallah kami yang masih menggeliat kesakitan.
Aku tidak mengerti apa yang mereka ucapkan, aku tidak ingat jelas wajah mereka, yang aku ingat jelas adalah kami berdua selalu bergandengan tangan melewati menit-menit menegangkan itu “Lari” bisik sahabatku ketika ia melihat celah untuk lari sementara orang-orang di hadapan kami sedang memikirkan sesuatu yang jahat tentunya, dan tanpa menunggu lama, kami segera bangkit dan berlari sekuat tenaga.
Langkah kaki kami terasa lemas dan mulai melambat, tetapi harapan kami tiba ketika terlihat gerbang perbatasan, kuharap mereka menoleransi kami yang tampaknya satu bangsa dengan mereka untuk masuk.
Dan tampaknya harapanku terkabulkan, namun... ketika harapan telah datang, mereka yang dibelakang mulai menembaki kami, dan yang di depan membalas tembakan2 tersebut, terjebaklah kami dalam perang kecil yang menakutkan ini.
Kurasakan langkah kaki sahabatku telah lemas, segera saja aku menggendongnya sekuat tenaga, tinggal beberapa langkah lagi dan semuanya selesai.
Namun, sialnya... ketika hanya tinggal sedikit lagi, aku tersandung dan jatuh, tetapi dengan cepat sahabatku meraih tanganku dan akupun berdiri, tetapi... anehnya ia malah mendorongku ke balik punggungnya hingga aku kembali terjatuh dalam lumpur, dan beberapa detik kemudian, ia terjatuh di pangkuanku dengan darah mengalir dari dadanya, dengan hati teriris, aku segera membawanya ke tempat kering dan membaringkannya di pangkuanku.
Darah terus mengalir deras dari dadanya, aku mendekapnya erat “Tolong jangan pergi” bisikku terbata-bata dan air mata tiada bisa kutahan lagi, tanganku yang berlumuran darah terasa berat sekali untuk melepas genggamannya, tiada yang menolongku saat itu dan seolah-olah nyawa kami tiada harganya.
Yang paling kuingat adalah saat mendengar jantungnya yang kian melemah, dan nafasnya yang mulai sesak, aku tidak tahu harus berbuat apa, yang kubisa hanyalah menangis dalam kepedihan, dan di menit terakhir kulihat matanya terbuka, ia membisikkan sesuatu yang sangat berarti bagiku “A..aku..sa..sayang kamu selamanya” Bisiknya sekuat tenaga dan setelah itu ia telah tiada, aku tidak bisa mempercayai ini terjadi, ini terlalu berat! Tidak! Tuhan, ini tidak adil! Tapi, apa daya, inilah takdir pahit yang harus kutelan tanpa kehadiran sahabat sejatiku yang telah tenang di sisiNya.
Detik itu aku serasa mau pingsan, aku ingin berteriak tetapi suaraku telah tertelan, hanya tetesan deras air mata yang menetes di tubuh sahabatku, senyumnya masih tersimpan di hatiku, tawanya masih ada di setiap nafasku dan tangis bahagianya masih bisa kurasakan dalam darahku.
Aku tahu, aku telah bersalah banyak padanya dan belum sempat aku meminta maaf akan semuanya, tetapi ia tetap bersamaku, tetap tersenyum padaku di balik kelamnya daerah ini.
Selamat tinggal sahabatku, saudara terdekat yang paling kucintai, tenanglah di sisi Tuhan dan tunggulah aku berada di sana untuk kembali menikmati senyuman penuh syukurmu...
Meski susah kehidupan kelam tanpa senyumanmu, aku akan tetap berjuang untuk hidup yang telah kau selamatkan ini.

by: Kristina Andita Pradani

Selasa, 23 Agustus 2011

Kenangan Dalam Debu


Hangatnya cahaya bola kuning besar tampak semu tertutup awan menyinari teras rumah mungil ini, ku terdiam di relung kursi ukir kayu yang masih tampak kokoh meski telah berabad-abad menanggung beban, lembutnya angin dalam embun pagi menarik memoriku kembali, sementara secangkir teh sudah mulai dingin di sampingku.
Akhir-akhir ini aku sering memandangi sebuah liontin perak cantik yang tergenggam di tanganku, pantulan peraknya seolah takkan pernah pudar dimakan waktu. Mungkin, karena sahabatku akan datang kemari? Meski aku sangat ingin berjumpa wajah merahnya yang cantik, tetapi tidak akan mungkin di balik rimba yang berbahaya ini, dan aku tidak ingin ia terluka.
Dedaunan semak mulai bergesek-gesek, mungkin saja para geriliya sedang lewat, harusnya aku segera masuk, tetapi aku tidak ingin melewatkan kecerahan pagi ini “Hai” seru suara indah yang rasanya tidak mungkin kupercaya di sini. Aku segera menoleh ke arah suara tersebut, meski tidak kupercayai mataku sendiri, tetapi tampaknya telingaku mengungkap yang sebenarnya.
“Li...li...liana?” Kataku pelan dengan nada tidak percaya “Iya Rista, ini aku” Kata Liana dengan lembut “Aku sudah bilang jangan kemari, bagaimana caramu menemukankku?” Tanyaku “Dari warga di desa sebelah” Jawab Liana “Li, ini terlalu berbahaya” Kataku “Tetapi kamu di sini, aku tidak akan takut” Kata Liana “Sudah tugasku untuk berada di sini, menjadi seorang dokter memang cita-citaku” Kataku “Iya, tapi seingatku, kau tak pernah bilang mengenai rimba” Kata Liana sambil tersenyum dan memelukku erat, seolah melepas kerinduan seribu tahun.
Tiba-tiba terdengar suara timah panas berdesing di sekitar kami, ketakutan mencengkram batinku saat kulihat delapan orang bergerak menuju rumahku, siapakah mereka? Kawan dan lawan seolah tak ada beda, mereka sama-sama orang kejam yang membantai kami dengan makan lapar dan minum darah.
Kaki kami seolah terpaku erat ke lantai dan tetesan air mengucur dari kelenjar keringatku, saat itu aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi kecuali genggaman tangan sahabatku yang mulai basah karena keringat dan sedetik kemudian, Liana kehilangan keseimbangan dan pukulan keras mendarat di belakang kepalaku dan segalanya menjadi buram dan kakiku terasa amat lemas, suara terakhir yang kudengar adalah benturan tubuhku dengan lantai kayu rumahku.
Ketika aku terbangun oleh guncangan lembut Liana, yang ada hanya kegelapan di setiap mata memandang, aku mulai takut apabila aku menjadi buta akibat kerasnya pukulan tadi “Li, semuanya gelap” Kataku dengan pelan dan air mata mulai terjatuh saat membayangkan jika diriku mengalami kebutaan, Liana hanya terdiam seribu bahasa, kegelapan itu menjadi selimut sunyi yang amat mencekam, ya Tuhan, dimana sahabatku? Apa yang sebenarnya terjadi? Aku di mana?
Sejuta pertanyaan membelitku “Li” Kataku pelan berusaha mencarinya “Iya Ris” terdengar suara lembut memecahkan keheningan yang mulai melepaskan cengkramannya, Liana segera memegang tanganku dan aku segera memeluknya “Li, di sini gelap” Kataku pelan “Iya Ris, di sini gelap” Kata Liana dan hal itu membuatku bisa sedikit bernafas lega, dan aku yakin, aku tidaklah buta.
Mendadak tampak cahaya kecil merobek kegelapan ini dan terdengar suara yang terasa berat dan menakutkan memanggil namaku dan berkata aku akan dibebaskan atas nama negaraku tercinta, aku menoleh ke arah Liana yang ketakutan di wajahnya terbiaskan dari air mata yang deras mengalir “Li, bilang saja namamu adalah Rista” Kataku sambil memaksakan senyum di wajahku yang telah banjir dengan ketakutan “Tapi Ris, itu bukan hakku dan negara sangat membutuhkanmu” Kata Liana “Tidak Li, aku yang sangat membutuhkanmu, berada di sini adalah resiko, aku akan menunggumu kembali” Kataku yang saat itu tidak dapat membendung air mata lagi “Pergi Li, lanjutkan hidupmu menjadi seorang penulis” Kataku seraya memberikan liontin perakkku kepadanya sementara pintu di luar mulai dibuka.
“Dimana Rista?” Tanya orang yang dengan kakinya menginjak hak kami “Dia” Jawabku dan Liana hanya bisa terdiam menuruti rencanaku, air matanya kini membiaskan cahaya persahabatan kami, aku berusaha menahan keinginanku untuk mengaku bahwa akulah Rista.
Tanpa panjang lebar lagi, ia segera membawa Liana keluar yang ia sangka adalah Rista, sementara ada seorang laki-laki yang tampak besar dan menutupi sebagian besar cahaya dari pintu yang kemudian ia tutup dan membuat kegelapan kembali datang.
Ketakutan mencengkramku, aku siap untuk kemungkinan terburuk hingga kematian yang ia percepat datang padaku, dan aku ingin sekali mengatakan “Ya Tuhan, aku ingin Liana tahu aku sayang sama dia” Bisikku pelan sementara air mata mengalir deras di pipiku dan aku terduduk dengan memegang erat kedua kakiku yang mulai gemetar.
Tuhan, semuanya ini pasti adalah yang terbaik untukku” Kataku dalam hati ketika orang tersebut memegang pundakku dan berbisik “Terlalu cantik untuk mati” katanya yang membuatku semakin gemetar, kemudian ia merangkulku dan beberapa detik kemudian leherku terasa perih dan semua terasa berputar dan seberkas cahaya membuatku melihat tubuh seorang gadis dan detik kemudian cahaya putih mengantarku naik, mungkinkah aku telah tiada? Jika iya, berarti Liana tak perlu kembali kemari dan kuharap ia tahu aku sayang padanya dan kutunggu ia di tempat yang indah ini...

by: Kristina Andita Pradani

Maaf Di Balik Kaca

Namanya juga manusia, mesti saja ada salahnya, tapi... kali ini tampaknya aku salah besar, mungkin saja Anne sedang dalam kondisi “bad mood” saat kusiram air di hari ulangtahunnya, meski dia nggak sampai basah kuyup, dia tampak amat marah dan ganti menyiramku dengan ember berisi air hingga aku basah kuyup lalu pergi begitu saja membuatku dan kelima temanku yang lain saling berpandangan heran.
Dugaanku tepat, dia memang marah padaku dan tidak mau kuajak bicara mesti rasanya aku ingin mendengar suaranya, tetap saja tidak ada yang kudengar, aku jadi merasa amat sangat tidak enak, jika menurutku, hal itu kan biasa saja terjadi dan sering terjadi padaku meski aku nggak berulang tahun.
Akhirnya, aku pun membiarkan dia diam hingga dua minggu, ah, sebel aku jadinya, meski demikian, aku juga berusaha tidak menyinggungnya dengan memilih untuk diam juga, padahal, ini kan saat-saat terakhirku bersekolah di sini, dua hari lagi aku akan pindah ke Jogja, perjalananku yang akan berlangsung sekitar 6 jam dari Kalimantan, akan terasa penuh tangisan terutama tanpa maaf dari sahabatku sendiri dan kuharap jika hal ini malah membuat Anne senang karena tidak melihatku, aku pun akan merasa lega juga.
Hari yang tidak kuharapkan terjadi tetap saja terjadi, tidak ada yang dapat menghentikan waktu dan detik yang terus berjalan maju, kurasa Anne tidak tahu kepergianku, atau mungkin saja ia masih marah, yah, akan kusimpan saja nomor teleponnya, mungkin... suatu hari nanti aku bisa mendengar suaranya yang lucu kembali dari Jogja.
Di pagi hari yang tampak cerah itu, hatiku masih kacau tanpa maaf dari Anne, meskipun demikian, aku tetap berangkat menuju ke bandara, tetapi entah aku sadar atau tidak, langkahku terasa amat ringan dan seolah ini sangat menyenangkan, aku pasti benar-benar berkhayal saat itu! Apalagi ketika aku sudah di dalam ruang tunggu, aku melihat Anne berlari menuju ke arahku, pasti ini adalah khayalan tingkat tinggi.
Tetapi... ia mengetuk kaca di hadapanku dengan air matanya yang berlinang, aku segera tersadar dan segera saja aku mengetuk kaca itu kembali “Anne?” Tanyaku, tetapi suaraku tidak dapat ia dengar, dan pada akhirnya ia meniup kaca dan menuliskan satu kata yang tampak buram “Maaf” mungkin itulah yang ia tulis, aku pun hanya bisa mengangguk, kemudian ia mengeluarkan kertas bertuliskan “Aku sayang kamu selamanya” dan itulah moment paling berharga dalam hidupku, tak hentinya kupandangi tulisan itu hingga nomor pesawatku terdengar dan... inilah saatnya aku masuk pesawat, aku hanya bisa melambai pada Anne yang masih berdiri di sana dengan kertas itu hingga ia lenyap dibalik kerumunan.
Kuharap kita akan selalu bersama Anne, atau setidaknya, aku bisa mendengar suaramu di Jogja yang damai ini...

by: Kristina Andita Pradani

Lembutnya Duri Mawar


Pancaran terik matahari siang membakar tubuhku, kupercepat langkahku di jalanan sepi ini dan berharap untuk bisa sampai rumah lebih cepat di siang yang terasa seperti hasil kebocoran neraka.
Pikiranku terlalu kacau untuk mendinginkan tubuhku, apalagi saat memikirkan Nana, uh, anak yang sok mengatur-ngatur di kelasku, untung saja ia tidak menjadii ketua kelas, jika iya, pasti kelasku akan berasa seperti neraka, aku pun nggak paham apa sebenarnya maksudny, dan seperti biasa, tentu saja ada yang pro dan kontra, dan aku adalah anak yang masuk dalam golongan kontra.
Ah, untuk apa sih memikirkannya? Lebih baik kan memikirkan hal lain yang lebih enak, seperti es teh manis yang akan kuminum di rumah nanti.
Dan tanpa kusangka, sebuah sepeda tanpa rem melaju cepat ke arahku, kakkiku terpaku di tempatku berdiri meski kucoba melangkahkanku, dan beberapa detik sebelum sepeda itu menabrakku, aku hanya sempat melakukan gerakan refleks membungkuk dan menutupi kepalaku.
Bruaak.... suara tabrakan terdengar, tetapi... aku masih sehat-sehat saja, apa yang terjadi? Aku membuka mataku perlahan dan melihat ke sekelilingku, tampaklah tubuh seorang gadis tergeletak di samping tembok sementara pengemudi sepeda tadi mengerang kesakitan, tampaknya gadis itu telah menyelamatkanku.
Segera saja aku berlari ke arah gadis itu dan betapa terkejutnya aku, gadis itu tak lain tak bukan adalah Nana! Mungkin terik matahari telah benar-benar membakar otakku, tetapi saat kulihat kepalanya berdarah dan tak sadarkan diri, segera saja aku menggendongnya dan berlari membawanya ke rumah sakit terdekat, dan aku tidak lagi memikirkan siapa Nana saat ia di kelas tadi, dan juga pengemudi sepeda yang tampak masih baik-baik saja.
Setibanya di rumah sakit, para suster dengan sigap menolong Nana yang kondisinya tampak amat tidak berdaya, ingin rasanya kembali ke tempat tadi dan menghajar orang tersebut, entah mengapa, aku merasa amat peduli dengan Nana, musuhku sendiri, Duri di dalam kelasku.
Dua jam berlalu, menit-menit yang menegangkan berlalu sangat lambat, akankah harapanku mendapat kepastian? Apakah detik yang terus bergulir akan membawa secercah sinar? Semua kuserahkan pada Tuhan.
Terkejut aku dari lamunanku saat suara seorang dokter merobek belenggu ketidakpastian dari sejuta pertanyaan di benakku “Dok, bagaimana teman saya?” Tanyaku pasrah “Ia mengalami retak di tengkoraknya, untung saja kamu segera membawanya kemari” Jawab Dokter “Bisakah saya masuk?” Tanyaku, dokter hanya mengangguk dan aku segera berlari masuk.
Terhenti aku di depan pintu oleh perasaan lega dan ketakutan, tetapi tanganku memberanikan diri membuka pintu yang terasa amat berat itu.
Nana?” Bisikku pelan “Iya” Jawab Nana, aku segera tersenyum dan masuk ke dalam ruangan seraya mengambil duduk di dekat pembaringannya “Na, terimakasih ya” Kataku sambil tersenyum “Iya, nggak masalah kok” Kata Nana “Aku juga mau minta maaf, Na” Kataku sambil tertunduk menyesal “Kenapa?” Tanya Nana “Aku... merasa kalau kamu...eh, maksudku aku mengira kamu itu terlalu banyak mengatur” Jawabku “Oh, masalah itu. Tadi Rene, ketua kelas kita, asmanya sempat kambuh sebelum berangkat sekolah, dan anak-anak terlalu ramai, aku takutnya nanti Rene dimarahi guru dan ia pasti kesulitan menenangkan anak-anak” Kata Nana yang membuatku tersentak, pikiranku telah bertindak terlalu ceroboh untuk hal yang tidak-tidak “Na, kamu masih mau kan menjadi sahabatku?” Tanyaku “Tentu” Jawab Nana dengan senyum puas tergambar di wajah putihnya yang cantik, kuharap, persahabatan kita akan abadi dan kini aku akan belajar untuk berhati-hati sebelum berfikiran yang tidak-tidak.

by: Kristina Andita Pradani

PIlihan Dalam Air Mata

Nggak ada angin, nggak ada hujan, Bella menamparku di pagi hari Sabtu yang cerah dengan matahari yang tampak malu2 di balik awan.
Bel, apa-apaan ini?” Tanyaku heran “Ingat nggak janji kita semalam?” Bella balik bertanya, astaga! Aku lupa meneleponnya! Pasti Bella sudah menungguku sejak lama! ”Ingat dong janjimu!” Kata Bella dan kemudian ia pergi dari hadapanku.
Aku segera mengejarnya dan berusaha meminta maaf, berbuat baik padanya juga sudah kulakukan, tetapi tetap saja senyum ketusnya yang nampak dan dia terus saja diam, membuatku frustasi! Akhirnya kutinggalkan dia agar dia mendapat waktu untuk berfikir jernih.
Siang hari yang panas mulai datang dan kucoba untuk mengamati Bella, hmm... tampaknya ia masih marah padaku, uuh, konyol banget sih masalahnya? Padahal di hari Sabtu ini aku biasanya jalan-jalan dengan Bella, tapi... karena masalah konyol ini aku hanya bisa mengikuti Bella memasuki gedung olahraga tempat biasanya kami berdua berlatih bulu tangkis, di hari Sabtu ini memang sepi karena liburan panjang yang telah tiba.
Mendadak tanah yang kupijak mulai bergetar, awalnya pelan dan aku pun panik, tetapi aku tidak ingin meninggalkan Bella, akhirnya gempa mulai kuat hingga tanah mulai retak, tetapi mendadak berhenti ”Bella! Bella!” Teriakku berlari ke arah Bella ”Ayo keluar!” Kataku ”Ok, Ven” Jawab Bella yang tampaknya masih saja marah padaku di saat seperti ini, tetapi wajah takut jelas tergambar di wajahnya sat bumi kembali bergetar dan langkahnya yang perlahan itu terhenti, aku malah segera menariknya untuk berlari keluar melalui retakan-retakan yang makin lebar, tetapi gedung olahraga itu sangat tidak mendukung, pintu utama pun terhalang oleh atap yang roboh dan dalam hitungan detik, atappun roboh menimpa kami dan hanya meninggalkan rongga kecil untuk kami.
Bel, kamu nggak apa-apa kan?” Tanyaku sambil meringkuk di celah itu bersama Bella “Iya Ven, tapi sempit nih” Jawab Bella “Eh, Bel lihat itu!” Kataku sambil berusaha menunjuk ke arah lubang kecil yang menjadi satu-satunya cahaya kami ”Kita bisa keluar lewat sana!” Teriak Bella dengan girang, tetapi mendadak wajahnya kembali cemberut “Tapi Ven, hanya ada satu orang yang bisa keluar” Kata Bella, aku terkejut dengan jawaban Bella, segera kuamati celah kecil itu dan ketika seorang dari kita keluar, jelas-jelasakan menyenggol sebatang besi yang akan menimbulkan reaksi beruntun yang akan menutup lubang tersebut atau parahnya, merobohkan bangunan hingga rata dengan tanah “Aduh Bel, aku nggak mau keluar tanpa kamu” Kataku “Sudahlah Ven, kaluar saja!” Kata Bella dengan suara tergetar, aku tahu ia takut, tetapi mengapa ia berkata demikian? Bukankah dia masih marah padaku?
Dengar Ven, kamu terjebak di sini kan karena aku, kamu yang harus keluar” kata Bella, dan air mataku pun mengalir saat mendengar sahabatku berkata demikian, padahal beberapa menit lalu kita masih marahan karena hal yang konyol “Bel, kamu bilang apa sih? Kita tunggu saja sebentar, pasti akan ada bantuan!” Kataku sedikit membentak untuk meyakinkan Bella, dan kurasa Bella hanya diam menanggapi sikapku.
Beberapa menit yang panjang telah berlalu dan telah terganti oleh jam-jam menegangkan dalam hidup kami, entah berapa lama kami berada di sana, tetapi dari jam tanganku, kami telah terjebak tanpa bisa bergerak bebas selama hampir 3 jam dan tiada sinyal di handphone kami, suasana di atas yang awalnya ramai menjadi kian sunyi, dan meski kami terus berteriak-teriak tiap ada harapan, tampak tidak membuahkan apa-apa.
“Ven, udah tiga jam nih, kamu keluar sana” Kata Bella, sejujurnya aku mau bertahan labih lama lagi asal Bella selamat, atau lebih baik jika Bella yang keluar, tetapi Bella terus saja memojokkanku, hingga akhirnya aku mengambil langkah pendakian pertama menuju celah itu.
Dengan amat sangat hati-hati aku mulai merangkak naik hingga mencapai lubang itu, aku berhenti sejenak, kamudian mulai keluar dari lubang dan langsung terjatuh ke luar sementara kausku sobek terkena besi penentu yang tak mungkin kuhindari.
Lega dapat menghirup udara segar, tetapi mataku mulai buram, dan terdengar suara kertakan di belakangku, segera saja aku berusaha berdiri meski kakiku terasa amat lemas dan tidak kuperhatikan darah yang mengalir dari tubuhku, aku hanya terfokus pada bangunan yang jatuh menimpa Bella sahabat baikku.
Meski tenagaku terkuras dan darah terus mangalir, aku tetap berusaha mencari Bella dalam reruntuhan itu, kukeluarkan semua tenaga dan pikiranku untuk membuka kayu demi kayu dan batu bata di depanku, aku berusaha berteriak memanggil Bella meski kerongkonganku terasa sakit, dan aku terus berharap pada Tuhan agar Bella tetap hidup saat kutemukan dia.
Pencarianku membuahkan hasil, dapat kulihat Bella tergeletak lemas, tetapi matanya masih memandangku dan senyum kecilnya masih mengarah padaku, aku segera mengulurkan tanganku untuk memegang tangannya sementara tangan kiriku masih terus membuka kayu yang menghalangi, hingga akhirnya ia dapat kutarik keluar.
“Bel, kamu nggak apa-apa?” Tanyaku panik “Nggak tau Ven” Bisiknya lirih, aku nggak tau apa yang harus kulakukan, dan akhirnya aku menggendong Bella menuju rumah sakit yang kuharpkan masih berdiri.
Dengan sisa tenaga terakhirku kubawa sahabatku dalam pangkuan tanganku yang bergemetaran karena lelah “Udah Ven, nggak usah” Bisik Bella pelan “Nggak Bel, aku masih sehat” Kataku sambil tersenyum menutupi fakta yang sebenarnya bahwa tenagaku hampir habis.
Mungkin baru separuh perjalanan, aku hampir pingsan, tetapi tidak kubiarkan Bella menderita, tetapi... kakiku tidak bisa diajak kompromi, aku terjatuh di atas dua lututku dan tetap berdoa agar Tuhan menolong kami.
Kurasa doaku telah Ia dengar, suara sirine ambulance mendatangi kami dan berhenti di samping kami. Yang kuingat saat itu adalah beberapa orang mengenakan baju putih turun dan segera menolong Bella, dan setelah itu... aku tidak tahu apa yang terjadi, sebab mataku telah gelap.
Ketika aku terbangun, yang kulihat adalah langit yang tampak biru seperti biasanya, ah, berarti aku masih di bumi. Segera saja aku duduk dan berusaha berdiri, namun ada seorang wanita cantik yang menyuruhku tetap tenang “Nggak mbak, aku nggak apa-apa” Kataku seraya berdiri dan melihat sekitarku, yang ada hanya kumpulan orang-orang korban gempa dan para relawan “Bella, Bella” Erangku pelan, entah kenapa suaraku tertahan di tenggorokkanku, aku segera berjalan mencari Bella di antara kerumunan orang, kurasa kakiku kali ini cukup dapat diajak kompromi dan suaraku mulai berkerjasama, sekuat tenaga aku memanggil nama Bella, meski kurasa itu tidak cukup keras.
Hingga akhirnya kutemukan Bella sedang duduk dan tampak bingung, kepala, tangan dan kakinya terperban, hampir mirip mumi, hahaha.
Aku segera manghampiri sahabatku dan memeluknya dengan hati-hati seolah tak ingin dia lepas dari pandanganku “Ven, makasih ya, kamu sudah menolongku” Kata Bella “Bukan Bel, ini pertolongan Tuhan” Jawabku dan takingin rasanya kehilangan satu-satunya sahabat terbaikku, yaitu Bella.

by: Kristina Andita Pradani