Tampilkan postingan dengan label perang saudara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perang saudara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

House of Wisom Baghdad, perpustakaan yang hilang


 (Bahasa Arab: بيت الحكمة Bait al-Hikma) adalah perpustakaan dan pusat penterjemahan semasa era kerajaan Abbasiyyah di Baghdad, Iraq. Tempat ini dianggap sebagai pusat intelektual dan keilmuan semasa Zaman Kegemilangan Islam.
Pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid Didirikan sebuah perpustakaan yang disebut Bait al-Hikma yang sekarang dikenal dengan nama House of Wisdom, sayangnya perpustakaan ini sudah menghilang.

Hilangnya House of Wisdom Baghdad
Tidak hanya House of Wisdom yang hilang di Baghdad, perpustakaan-perpustakaan lain juga turut hilang dalam serangan/invasi pasukan Mongol ke Baghdad tahun 1258, tetapi House of Wisdom lah yang merupakan perpustakaan terbesar dan terlengkap pada masa itu , bahkan Sungai Tigris menjadi hitam selama 6 bulan akibat dari pembuangan sisa pembakaran buku House of Wisdom.
Sempat terdengar beberapa kabar bahwa beberapa buku dari House of Wisdom disembunyikan sehingga tidak mengalami kehancuran dan menurut saya, mungkin saja beberapa orang mampu mengingat satu atau dua buku gitu yang seenggak-enggaknya bisa sangat berharga.
Well, memang tidak semua buku dihancurkan oleh pasukan Mongol, selama terjadinya invasi, Nasir Al-Din Al-Tusi sempat membawa 400.000 ke Maragheh.
Hilangnya House of Wisdom mengakibatkan kemunduran pendidikan di Arab, serangan Mongol tersebut benar-benar menumpulkan kemajuan pengetahuan di Arab, tetapi hanya sampai pertengahan abad ke 13, setelah itu pendidikan di Arab kembali maju akibat adanya pusat pendidikan lain dan sedikit demi sedikit House of Wisdom yang awalnya terkenal seantero dunia mulai dilupakan.

Sejarah House of Wisdom
Baghdad terkenal bukan sebagai pusat keilmuan semasa zaman Abbasiyyah. Sarjana-sarjana zaman Abbasiyyah banyak menterjemah hasil kerja asing ke bahasa Arab dan Parsi. Kerajaan Abbasiyyah juga membina perpustakaan yang besar, dan menarik kedatangan sarjana dari Empayar Byzantine.
House of Wisdom memiliki banyaaaak sekali buku, bahkan buku-buku di sini mencatat sejarah dan kemajuan teknologi serta pengetahuan, diantaranya adalah cara pembedahan rumit bagi manusia, ilmu perbintangan dan yah, matematika serta sains yang rumiit. Tetapi semuanya itu membantu pekerjaan-pekerjaan masyarakat Baghdad, misalnya tentang pertanian, musim dan pembangunan.
House of Wisdom merupakan perpustakaan pertama yang menggunaka sistem katalog yang kemudian diikuti oleh perpustakaan-perpustakaan lain, di Baghdad sendiri, sudah mulai dikenal tekhnik pembuatan kertas sejak Perang tahun 751 dan buku-buku di sini juga diterjemahkan ke bahasa-bahasa lain. Awalnya hanya hasil kerja orang Persia yang diterima, tetapi lama kelamaan dari bahasa dan bangsa lain pun juga diterima (bahkan sampai bahasa Sansekerta pun diterjemahkan ke bahasa Arab, katanya. Soalnya buku-buku dan buktinya banyak yang hilang sih).
House of Wisdom dikatakan berdiri sejak abad ke 9, tetapi sebelum abad ke9, sudah mulai ada rencana pembangunan oleh Harun Al-Rasyid dan persiapan berbagai buku dilakukan oleh Al-Makmun di tahun 800an, beliaulah yang berperan besar dalam penulisan berbagai ilmu dalam pikirannya antara lain: astronomy, alchemy, pengobatan, dll.


oleh : Kristina Andita P. Kaaro

Rabu, 16 Januari 2013

Perang Bharathayudha, kisah perang besar dalam pewayangan


Perang Bharatayudha
Tentu saja kata-kata ini tidaklah asing bagi kita, apa yang ada di benak kita saat memikirkan kata “Perang Bharatayudha” ? Wayang, sejarah, sebuah perang hebat?
Kisah peperangan ini adalah kisah perang terhebat dalam cerita pewayangan, perang ini adalah perang antar saudara yaitu Pandhawa(melambangkan kekuatan baik) dan sepupu mereka Kurawa(melambangkan kekuatan jahat) akibat perebutan takhta kerajaan yang seharusnya jatuh ke tangan Puntadewa, malah diberikan pamannya(Destrarestra) ke anaknya yaitu Duryudana, anak sulung dari para Kurawa. Padahal Destraresta berjanji akan mengembalikan takhta ke tangan Puntadewa saat mereka sudah cukup dewasa.
Di saat mereka sudah mulai berkuasa, datanglah Kurawa dan Sengkuni yang mencurangi mereka dalam permainan judi sehingga para Pandawa pun harus pergi ke hutan sebagai akibat dari kekalahan mereka.
Balatentara Korawa menyerang laksana gelombang lautan yang menggulung-gulung, sedang pasukan Pandawa yang dipimpin Resi Seta menyerang dengan dahsyat seperti senjata yang menusuk langsung ke pusat kematian.
Bisma dapat menewaskan Resi Seta. Bharatayuddha babak pertama diakhiri dengan sukacita pihak Korawa karena kematian pimpinan perang Pandawa.
Setelah Resi Seta gugur, Pandawa kemudian mengangkat Drestadyumna (Trustajumena) sebagai pimpinan perangnya dalam perang Bharatayuddha. Sedangkan Bisma tetap menjadi pimpinan perang Korawa. Dalam babak ini kedua kubu berperang dengan siasat yang sama yaitu Garudanglayang (Garuda terbang).
Dalam pertempuran ini dua anggota Korawa, Wikataboma dan kembarannya, Bomawikata, terbunuh setelah kepala keduanya diadu oleh Bima. Sementara itu beberapa raja sekutu Korawa juga terbunuh dalam babak ini. Diantaranya Prabu Sumarma, raja Trigartapura tewas oleh Bima, Prabu Dirgantara terbunuh oleh Arya Satyaki, Prabu Dirgandana tewas di tangan Arya Sangasanga (anak Setyaki), Prabu Dirgasara dan Surasudirga tewas di tangan Gatotkaca, dan Prabu Malawapati, raja Malawa tewas terkena panah Hrudadali milik Arjuna.
Bisma setelah melihat komandan pasukannya berguguran kemudian maju ke medan pertempuran, mendesak maju menggempur lawan. Atas petunjuk Kresna, Pandawa kemudian mengirim Dewi Wara Srikandi untuk maju menghadapi Bisma. Dengan tampilnya prajurit wanita tersebut di medan pertempuran menghadapi Bisma. Bisma merasa bahwa tiba waktunya maut menjemputnya, sesuai dengan kutukan Dewi Amba yang tewas di tangan Bisma. Bisma gugur dengan perantaraan panah Hrudadali milik Arjuna yang dilepaskan oleh istrinya, Srikandi.

Asal Usul Perang Bharatayudha
Istilah Baratayuda berasal dari kata Kisah peperangan ini merupakan bagian dari kitab Mahabarata yang berasal dari India, beberapa hal dalam peperangan agak berbeda versi antara Jawa dengan India. Konon, sebelum Pandawa dan Korawa dilahirkan, perang ini sudah ditetapkan akan terjadi. Selain itu, Padang Kurusetra sebagai medan pertempuran menurut pewayangan bukan berlokasi di India, melainkan berada di Jawa, tepatnya di dataran tinggi Dieng. Dengan kata lain, kisah Mahabharata menurut tradisi Jawa dianggap terjadi di Pulau Jawa, Dalam pewayangan Jawa dikenal adanya sebuah kitab yang tidak terdapat dalam versi Mahabharata. Kitab tersebut bernama Jitabsara berisi tentang urutan siapa saja yang akan menjadi korban dalam perang Baratayuda. kitab ini ditulis oleh Batara Penyarikan, atas perintah Batara Guru, raja kahyangan.
Menurut beberapa sumber, 695 tahun sebelum masehi, muncul banyak pujangga-pujangga kerajaan yang menulis banyak karya sastra dan menerjemahkan cerita-cerita yang berkembang, di masa ini, terdapat banyak biksu, nah kitab Mahabharata ini sendiri dikatakan berasal dari kerajaan Sriwijaya, sebab di sini terdapat biksu-biksu yang lebih banyak dari di kerajaan lain dan kerajaan Sriwijaya sudah mulai mengelola perpustakaan.
uga muncul dua kitab keagamaan yaitu Brahmandapurana dan Agastyaparwa. Kitab lain yang terkenal adalah Arjuna Wiwaha yang digubah oleh Mpu Kanwa. Dari uraian tersebut nyatabahwa sudah ada naskah yang ditulis tangan dalam media daun lontar yang diperuntukkan bagi pembaca kalangan sangat khusus yaitu kerajaan. Jaman Kerajaan Kediri dikenal beberapa pujangga dengan karya sastranya. Mereka itu adalah Mpu Sedah dan Mpu Panuluh yang bersama-sama menggubah kitab Bharatayudha.
Bharatayuddha (Perang Bharata), yaitu judul sebuah naskah kakawin berbahasa Jawa Kuna yang ditulis pada tahun 1157 oleh Mpu Sedah atas perintah Maharaja Jayabhaya, raja Kerajaan Kadiri. Sebenarnya kitab baratayuda yang ditulis pada masa Kediri itu untuk simbolisme keadaan perang saudara antara Kerajaan Kediri dan Jenggala yang sama sama keturunan Raja Erlangga .
Di Yogyakarta, cerita Baratayuda ditulis ulang dengan judul Serat Purwakandha pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana V. Penulisannya dimulai pada 29 Oktober 1847 hingga 30 Juli 1848.

Babak dalam Perang Bharatayudha
• Babak 1: Seta Gugur
• Babak 2: Tawur (Bisma Gugur)
• Babak 3: Paluhan (Bogadenta Gugur)
• Babak 4: Ranjapan (Abimanyu Gugur)
• Babak 5: Timpalan (Burisrawa Gugur atau Dursasana Gugur)
• Babak 6: Suluhan (Gatotkaca Gugur)
• Babak 7: Karna Tanding
• Babak 8: Rubuhan (Duryudana Gugur)
• Babak 9: Lahirnya Parikesit

Minggu, 30 Desember 2012

Efesus, Sejarah Kota Indah yang Dipersembahkan Pada Dewi Artemis



Efesus adalah sebuah kota kuno taraf internasional. Terletak pada muara Kaistros di Asia Kecil. Kira-kira tahun 1000 sebelum Masehi didiami oleh para imigran dari Ionia. Kemudian bisa berkembang menjadi kota perdagangan yang kaya dan bernilai budaya tinggi. Sejak tahun 133 sebelum Masehi menjadi pusat propinsi Romawi di Asia. Kenisah dewi Artemis dengan arca dewi itu termasuk bilangan mujizat dunia sejak dari zaman kuno (Kisah Para Rasul 19:35)
Dalam Kisah Para Rasul 19:35 bagian yang terakhir, dikatakan bahwa para masyarakat Efesus percaya jika patung dewi Artemis turun dari langit, padahal patung-patung tersebut dibuat oleh para tukang-tukang, coba lihat di Kisah Para Rasul 19:24-25.
Di kota Efesus, dipercaya sebagai kota untuk dewi Artemis, bahkan mistik yang menyebar di masyarakat kota ini sudah menjadi sangat kuat dan sangat mendalam, bahkan bisa saja dikatakan bahwa hampir sebagian penduduknya adalah tukang-tukang sihir, dibuktikan dalam pembakaran kitab-kitab sihir yang bernilai super mahal dan super banyak di Efesus. Tempat yang terkenal di Efesus adalah kuil dewi Artemis yang mahabesar.
Dewi Artemis adalah dewi orang-orang Efesus yang kemudian disamakan dengan dewi Artemis orang Yunani dan Diana dari Romawi. Patungnya berupa sebuah tubuh yang berbuah dada banyak dan berkepala seorang wanita, dengan sebongkah batu besar sebagai ganti kaki.
Kuil yang pertama mungkin dibangun sekitar abad yang keenam SM, tetapi belum selesai hingga tahun 400 SM. Ia dibakar sampai rata ke tanah pada tahun 356 SM dan digantikan oleh bangunan yang lebih baru dan lebih besar, 425 kaki kali 225 kaki, yang disokong oleh sumbangan dari seluruh Asia. Ia dianggap sebagai salah satu keajaiban dunia dan dikunjungi oleh banyak peziarah yang akan beribadat dalam tempat pemujaannya.
Kota Efesus merupakan salah satu daerah pemukiman yang tertua di pantai sebelah barat Asia Kecil dan kota yang paling menonjol di propinsi Romawi di Asia, Kota ini adalah salah satu dari dua belas kota anggota Liga Ioniapada masa Yunani Klasik. Pada masa Romawi, selama bertahun-tahun kota ini menjadi kota kedua terbesar di Romawi setelah kota Roma.
Efesus memiliki populasi sejumlah lebih dari 250.000 orang pada abad ke-1 SM, yang ketika itu menjadikannya sebagai kota terbesar kedua di dunia. Asal mula kota ini tidak pernah diketahui, tetapi dalam abad kedelapan SM ia merupakan wilayah pemukiman yang menonjol dan sudah lama diambil alih oleh bangsa Yunani. Ia terletak sekitar tiga mil dari pantai di tepi Sungai Kayster, yang pada waktu itu dapat dilayari, sehingga Efesus merupakan kota pelabuhan. Lembah Sungai Kayster melandai sampai jauh ke pedalaman hingga digunakan sebagai jalur perjalanan kafilah ke Timur.
Dari Efesus ada jalan- jalan raya yang menghubungkannya dengan semua kota-kota besar lainnya di propinsi itu serta jalur-jalur perniagaan yang menghubungkannya dengan wilayah utara dan timur. Ia merupakan pos yang strategis untuk mengabarkan Injil, karena para pekerja dari Efesus mempunyai hubungan dengan seluruh wilayah pedalaman Asia.


Efesus di Zaman Kuno
Sekitar 650 tahun sebelum masehi, Efesus pernah diserang oleh Cimmerians(masyarakat Indo-Eropa kuno yang mendiami sisi utara Caucacus) yang menjarah Efesus sampai menghabiskan isi dari kuil dewi Artemis
560 tahun sebelum masehi, kota Efesus kembali ditaklukkan oleh Lidia dan berada di bawah pemerintahan raja Croesus, yang memerintah dengan kasar tetapi beliau ikut menyumbang dalam pembangunan kembali kuil dewi Artemis, dan pada waktu yang bersamaan, raja Croesus mengumpulkan penduduk Efesus yang tersebar menjadi satu dan membangun kota Efesus

Efesus di Periode Klasik
Efesus berkembang semakin makmur, tetapi pada saat kota Efesus tertekan oleh pajak yang memberatkan mereka di 498 tahun sebelum masehi, Efesus ikut memberontak bersama dengan persatuan pemberontak di Asia kecil melawan kekuasaan Persia.
Mereka disebut sebagai lonians, dan tidak lama kemudian, Athena dan Sparta ikut dalam penyerangan mereka melawan Persia di 497 tahun sebelum masehi.
Tetapi perang dan penjajahan tidak banyak member efek pada kehidupan warga Efesus, kehidupan di Efesus malah semakin maju dan warga Efesus menjadi salah satu kehidupan manusia yang lebih dulu menghargai wanita setelah suku Amazon.

Efesus di  Periode Hellenistic
334 tahun sebelum Masehi, ketika Alexander Agung mengalahkan Persia, kota-kota yang direbut Persia (Asia kecil dan Yunani) dibebaskan dan keluarga kerajaan dirajam sampai mati.
Alexander Agung disambut hangat ketika memasuki kota Efesus dan berniat membiayai pembangunan kuil Artemis yang belum selesai-selesai, tetapi warga Efesus keberatan akan hal itu.
Setelah Alexander Agung mati di 323 tahun sebelum masehi, di 290 tahun sebelum masehi, Efesus dikuasai oleh Alexander Lysimachus
Efesus memberontak setelah kematian Agathocles, memberikan raja Helenistik Suriah dan Mesopotamia Seleukus I Nicator kesempatan untuk menghapus dan membunuh Lysimachus, saingan terakhirnya, pada Pertempuran Corupedium di 281 SM.
Jadi, Efesus menjadi bagian dari Kekaisaran Seleukus. Setelah pembunuhan Raja Antiochus II Theos dan istri nya Mesir, Firaun Ptolemy III menginvasi Kekaisaran Seleukus dan armada Mesir menyapu pantai Asia Kecil. Efesus berada di bawah kekuasaan Mesir antara 263-197 SM.
Ketika Seleukus Antiokhus III Raja Agung mencoba untuk mendapatkan kembali kota-kota Yunani di Asia Kecil, ia datang dalam konflik dengan Roma. Setelah serangkaian pertempuran, ia dikalahkan oleh asiaticus Scipio pada Pertempuran Magnesia di 190 SM. Akibatnya, Efesus berada di bawah kekuasaan raja Attalid dari Pergamon Eumenes II (197-133 SM).

Efesus di Periode Romawi
Di sekitar 88 tahun sebelum masehi, Efesus menjadi salah satu kota di Republik Romawi, pajak semakin meningkat dan tekanan hidup warga Efesus menjadi semakin berat, Efesus menyambut kedatangan Archealus, jendral dari raja Pontus yang diharapkan membawa perubahan, dan hal ini mengakibatkan pembantaian 80.000 warga Roma di daerah Asia dan setiap orang yang diketahui memakai aksen Latin.
Di 27 tahun sebelum masehi, ketika kaisar Augustus memerintah, ia membuat Efesus menjadi kota ibukota menggantikan Pergamus dan membangun kota ini.

Efesus di Era Byzantine
Kaisar Constantine 1 membangun Efesus dan mendirikan pemandian umum yang megah.
Efesus tetap menjadi kota penting pada era Byzantine, hal ini didukung pula dengan adanya pelabuhan di Efesus yang menjadi pusat perdagangan

Efesus di Era Turki
Efesus berhasil ditaklukkan pada masa Perang Salib dan dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Ottoman pada tahun 1390


Lain-lain mengenai Efesus di masa modern
Efesus diyakini sebagai kota “Seven Sleepers” yaitu orang-orang yang dianiaya akibat percaya pada Tuhan dan memberitakan kabar sukacita atau Firman Tuhan pada jemaat Efesus, kemudian mereka bersembunyi di sebuah gua saat dikejar-kejar musuh dan tertidur selama berabad-abad, kisah ini dianggap suci oleh masyarakat Katolik, Kristen Ortodoks dan kisahnya bahkan dicatat dalam Al-Quran


Atlas, Dewa Penopang Langit


Atlas, pernah mendengar kata Atlas? Atlas yang akan kubahas ini mengenai dewa Atlas, bukan Atlas yang peta dunia itu lho!
Dalam mitologi Yunani, Atlas memiliki 3 saudara, yaitu : Prometheus, Epimetheus, dan Menoetius yang memiliki orangtua bernama Lepeteus atau Iapetos(Titan) dan Asia atau Klyménē (Κλυμένη)(salah satu dari 300 anak perempuan Titan Oceanus)
Atlas menikahi Pleione dan memiliki tujuh orang anak yang disebut Pleiades.
Ia dihukum oleh Zeus berdiri di bagian barat Gaia (Bumi) dan memegang Uranus (langit) pada bahunya. Terdapat miskonsepsi bahwa Atlas terpaksa memegang Bumi pada bahunya, tetapi hal ini tidak benar. Seni klasik menunjukan Atlas memegang bola langit, bukan dunia. Dan beberapa cerita juga mengatakan kalau Atlas dihukum untuk menopang langit bukan bola langit dipuncak sebuah gunung.
Awalnya, Atlas dipasangkan dengan Pheobe dan memerintah di Bulan,

Hukuman Atlas
Kok Atlas bisa dihukum? Hal ini dikarenakan Atlas dan saudaranya, Menoetius memihak kepada para Titan(raksasa-raksasa yang melawan dewa) pada saat perang melawan 12 Olympians atau yang biasa dikenal dengan sebutan 12 dewa yaitu : Zeus, Hera, Poseidon, Demeter, Athena, Hestia atau Dionysus, Apollo, Artemis, Ares, Aphrodite, Hephaestus dan Hermes.
Namun para Titan beserta sekutunya kalah melawan para dewa ini dan banyak diantara mereka termasuk Menoetius dipenjarakan di Tartarus(Τάρταρος, dari  τάρταρον merupakan penjara yang gelap, sempit, mengerikan, pokoknya yang enggak enak gitu lah di dekat underworld untuk para terhukum yang melebihi batas), tetapi Zeus mengambil Atlas dan menghukumnya untuk berdiri di sisi barat bumi dan menyangga bola langit di bahunya.

Perkembangan Cerita
Beberapa waktu kemudian, berkembanglah cerita mengenai Atlas, yaitu ketika Perseus menggunakan kepala Mendusa(Dewi ular) dan mengubah Atlas dan lain-lain menjadi batu sehingga ia selalu berdiri tegak.
Mungkin kamu pernah mendengar tentang kisah raja pertama Atlantis yang bernama Atlas, beberapa sumber mengatakan bahwa Atlas tersebut adalah anak dari Poseidon(dewa laut) dengan seorang manusia.

Anak-anak Atlas

  • Dari Hesperis : Hesperides
  • Dari Pleione : Hyades(terdiri dari anak-anak perempuan yang bertugas menurunkan hujan), Hyas, Pleiades(7 orang anak)
  • Dari sumber lain : Calypso, Dione, Maera


Silahkan Baca Juga
House of Wisom Baghdad, perpustakaan yang hilang
Pergamus, kota bersejarah yg menjadi tahta iblis
Tentara Pembela Tanah Air(PETA)
Perang Bharathayudha, kisah perang besar dalam pewayangan

Dari Blog Lain:
White Hole, lubang pemberi material dari antah berantah
Nebula, Awan Indah Tempat Pembentukan Bintang
Materi Gelap, Materi untuk Menyusun Alam Semesta
Semua Orang Dipanggil, Sedikit yang Dipilih
Belajar dari Apolos

Kamis, 25 Agustus 2011

Mutiara Dibalik Pendar Kelabu


Tiada hari tanpa tangisan, luka yang selalu ada mengikuti kami berdua sepanjang waktu, memaksa kaki untuk berlari tanpa henti di daerah yang bahkan tidak kukenal udaranya, dinginnya tetesan air langit kerap kali membasahi kami, tetapi senyumnya tak pernah pudar, senyum dari sahabat terbaikku, satu-satunya harta yang kumiliki saat ini.
Hari ini bukanlah hari keberuntungan kami, sedetikpun kami tak bisa tidur hari ini, suara peluru berdesing di sekitar kami, hal terbaik hari ini adalah setidaknya kami menemukan sebuah gudang yang cukup aman, yah, itu menurut sahabatku, tetapi menurutku tetap saja mengerikan berada di sini.
Tiap detik terdengar tangisan baru, hatiku mulai diselimuti ketakutan menyeluruh, dan sahabatku segera memegang kedua tanganku ketika ia tahu aku mulai takut meski kurasakan hal yang sama menyelubunginya.
Mungkin... telah satu jam kondisi ini berlangsung dan beberapa orang mendobrak pintu gudang, secepat kilat kami berdua bersembunyi di dalam kotak kayu yang cukup sempit, tetapi tetap saja sahabatku tersenyum untuk menenangkanku.
Langkah dari sepatu boot berlumpur terdengar begitu menakutkan di telinga kami dan kurasakan mereka berdiri tepat di samping kotak kayu tempat kami bersembunyi, aku melihat sahabatku mulai menangis pelan sementara aku sendiri penuh dengan keringat dingin dan... secara tiba-tiba, mereka membanting kotak kayu tempat kami bersembunyi ke arah tembok yang cukup kokoh, sehingga pecah dan tinggallah kami yang masih menggeliat kesakitan.
Aku tidak mengerti apa yang mereka ucapkan, aku tidak ingat jelas wajah mereka, yang aku ingat jelas adalah kami berdua selalu bergandengan tangan melewati menit-menit menegangkan itu “Lari” bisik sahabatku ketika ia melihat celah untuk lari sementara orang-orang di hadapan kami sedang memikirkan sesuatu yang jahat tentunya, dan tanpa menunggu lama, kami segera bangkit dan berlari sekuat tenaga.
Langkah kaki kami terasa lemas dan mulai melambat, tetapi harapan kami tiba ketika terlihat gerbang perbatasan, kuharap mereka menoleransi kami yang tampaknya satu bangsa dengan mereka untuk masuk.
Dan tampaknya harapanku terkabulkan, namun... ketika harapan telah datang, mereka yang dibelakang mulai menembaki kami, dan yang di depan membalas tembakan2 tersebut, terjebaklah kami dalam perang kecil yang menakutkan ini.
Kurasakan langkah kaki sahabatku telah lemas, segera saja aku menggendongnya sekuat tenaga, tinggal beberapa langkah lagi dan semuanya selesai.
Namun, sialnya... ketika hanya tinggal sedikit lagi, aku tersandung dan jatuh, tetapi dengan cepat sahabatku meraih tanganku dan akupun berdiri, tetapi... anehnya ia malah mendorongku ke balik punggungnya hingga aku kembali terjatuh dalam lumpur, dan beberapa detik kemudian, ia terjatuh di pangkuanku dengan darah mengalir dari dadanya, dengan hati teriris, aku segera membawanya ke tempat kering dan membaringkannya di pangkuanku.
Darah terus mengalir deras dari dadanya, aku mendekapnya erat “Tolong jangan pergi” bisikku terbata-bata dan air mata tiada bisa kutahan lagi, tanganku yang berlumuran darah terasa berat sekali untuk melepas genggamannya, tiada yang menolongku saat itu dan seolah-olah nyawa kami tiada harganya.
Yang paling kuingat adalah saat mendengar jantungnya yang kian melemah, dan nafasnya yang mulai sesak, aku tidak tahu harus berbuat apa, yang kubisa hanyalah menangis dalam kepedihan, dan di menit terakhir kulihat matanya terbuka, ia membisikkan sesuatu yang sangat berarti bagiku “A..aku..sa..sayang kamu selamanya” Bisiknya sekuat tenaga dan setelah itu ia telah tiada, aku tidak bisa mempercayai ini terjadi, ini terlalu berat! Tidak! Tuhan, ini tidak adil! Tapi, apa daya, inilah takdir pahit yang harus kutelan tanpa kehadiran sahabat sejatiku yang telah tenang di sisiNya.
Detik itu aku serasa mau pingsan, aku ingin berteriak tetapi suaraku telah tertelan, hanya tetesan deras air mata yang menetes di tubuh sahabatku, senyumnya masih tersimpan di hatiku, tawanya masih ada di setiap nafasku dan tangis bahagianya masih bisa kurasakan dalam darahku.
Aku tahu, aku telah bersalah banyak padanya dan belum sempat aku meminta maaf akan semuanya, tetapi ia tetap bersamaku, tetap tersenyum padaku di balik kelamnya daerah ini.
Selamat tinggal sahabatku, saudara terdekat yang paling kucintai, tenanglah di sisi Tuhan dan tunggulah aku berada di sana untuk kembali menikmati senyuman penuh syukurmu...
Meski susah kehidupan kelam tanpa senyumanmu, aku akan tetap berjuang untuk hidup yang telah kau selamatkan ini.

by: Kristina Andita Pradani