Rabu, 05 Oktober 2011

Skabies


Adalah salah satu penyakit menular yang salah satu jenis penularannya adalah melalui hubungan seks, baik secara wajar, oral sex ataupun anal sex.
Penyakit Skabies biasanya dikenal dengan nama Gudig yang disebabkan oleh salah satu parasit bernama Sarcopfes scbiei yang juga dapat menular dari penderita satu ke penderita lain dengan cara:
  1. Kontak langsung dengan penderita Skabies seperti handuk yang digunakan penderita, gelas, selimut, bantal, sendok, garpu, dan lain sebagainya
  2. Hubungan seksual bebas yang kemungkinan pasangan seksnya terkena penyakit Skabies
  3. Bersentuhan dengan penderita Skabies
Karena itu penyakit ini jika terjadi pada salah seorang anggota keluarga, dapat menyebar ke seluruh anggota keluarga dengan cepat dan disebut juga ‘penyakit keluarga’ karena penularannya yang cukup mudah.
Gejala Skabies adalah:
  1. Kulit terasa gatal pada malam hari
  2. Terutama gatal-gatal terdapat di sela jari, lipat siku, ketiak, daerah ujung kelamin, lipat lutut, dan lain-lain
  3. Terjadinya infeksi yang nampak seperti kulit yang kemerah-merahan
Yang pasti, jika penderita Skabies ini diperiksakan ke dokter, maka akan ditemukan kutu Sarcoples pada pemeriksaan secara mikrokopis atau pemeriksaan menggunakan mikroskop

Herpes Genital


Disebabkan oleh virus Herpes simplex, terdapat 2 jenis herpes dan ini adalah tipe yang ke2 dan akibatnya adalah infeksi seumur hidup yang menyebabkan lecet-lecet pada alat kelamin yang terkadang muncul tiba-tiba dan menghilang dengan sendiri dan kemudian muncul kembali.
Terkadang ada pria yang tidak menunjukkan gejala apapun tetapi bisa ganas menulari orang lain.
Penderita Herpes di Amerika mencapai jumlah sekitar 61 juta jiwa dan di Indonesia belum dapat diperkirakan jumlahnya, tetapi virus ini jelas-jelas telah memasuki wilayah Indonesia karena merupakan virus yang belum terdeteksi dan terkadang tidak menimbulkan gejala yang tampak oleh mata biasa.
Tetapi penyakit ini ada obatnya, dan obat tersebut adalah Acydovir (Zovirox), valacyclovir (Valtrex) dan famiciclovir(Famvir) yang dapat meringankan gejala-gejalanya tetapi tetap tidak dapat menyembuhkan lecet-lecet yang ditimbulkan oleh herpes ini dan Herpes Genital membuat orang memiliki resiko tertular AIDS menjadi lebih besar karena virus dapat masuk melalui luka-luka karena herpes ini yang tidak terlindungi oleh sel darah putih.
Bayi yang masih ada dalam janin pun dapat tertular penyakit ini melalui plasenta atau proses persalinan normal melalui vagina.
Setelah infeksi, virus herpes ini membentuk masa laten atau masa tenang, penderita tampak sehat-sehat saja, tetapi virus ini aktif menyerang sel-sel syaraf dan dapat menyebarkan/menularkan pada orang lain.
Virus dapat aktif kembali apabila telah melewati masa laten, di alat kelamin dan mulut, virus mulai menjadi transmittable lagi, tetapi tetap tidak disertai gejala.
Infeksi yang dapat terulang bisa saja dipicu oleh datang bulan / menstruasi, penyakit yang menyebabkan demam dan stress juga menurunnya sistem kekebalan tubuh.
Gejala yang paling sering muncul meskipun tidak terlalu terlihat adalah munculnya benjolan yang menyebabkan sakit pada kulit yang terdapat di alat kelamin dan bibir, lokasi ini tergantung dari tempat saat dilakukan ‘pertukaran’

Hepatitis B


Merupakan salah satu penyakit yang menyerang hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B (VHB) yang masih anggota famili dari hepadnavirus dan dapat menyebabkan meradangnya hati dan lama-kelamaan jika tidak diobati akan menyebabkan sirosi hati atau biasanya disebut kanker hati.
Penyebab Hepatitis B tidak selalu berasal dari virus VHB, keracunan obat, terpapar karbon tetraklorida, chlorofom, arsen, fosfor dan berbagai jenis zat-zat kima beracun lainnya.
Virus hepatitis B sudah tersebar di seluruh Asia dan tidak terkecuali Indonesia, dan fakta yang mengejutkan adalah bahwa virus Hepatitis B menurut para dokter seratus kali lebih ganas dari pada AIDS hal ini dikarenakan gejala-gejala virus hepatitis B tidaklah tampak dan terasa.
Penderita virus hepatitis B ditandai dengan tingginya kadar HBV DNA dan peningkatan intermiten ALT>10 kali di atas batas normal.
Menurut beberapa orang dan juga ahli-ahli, ternyata ada beberapa gejala yang tampak, yaitu:
  1. Kehilangan selera makan
  2. Rasa tidak enak di perut
  3. Rasa nyeri pada hati
  4. Mual-mual sampai muntah
  5. Demam
  6. Nyeri sendi dan tulang
  7. Bengkak pada perut kanan atas
Setelah sekitar seminggu terpapar virus hepatitis B, akan timbul gejala berupa:
  1. Bagian putih pada mata akan terlihat berwarna kuning
  2. Kulit di seluruh tubuh berwarna kuning
  3. Air seni tampak berwarna seperti teh
Ada 3 tanggapan kekebalan tubuh terhadap virus hepatiti B ini, yaitu:
  1. Kekebalan tubuh kuat
Jika kekebalan tubuh orang itu sangat kuat, maka bukan tidak mungkin jika virus hepatitis B ini akan dihancurkan oleh sel darah putih dan terjadi pembersihan virus secara total
  1. Kekebalan tubuh lemah
Jika kekebalan tubuh tidak kuat menghadapi virus ini, maka penderita akan menjadi carrier inaktif
  1. Kekebalan tubuh intermediate
Artinya memiliki daya tahan tubuh di antara kedua hal di atas, sehingga hepatitis B dapat berkembang menjadi kronis
Penularan virus hepatitis B ini dapat disebabkan oleh:
  • Gaya hidup tidak sehat
  • Penularan ibu pada bayi dalam kandungannya
  • Penggunaan alat suntik bekas penderita hepatitis B
  • Penggunaan sikat gigi bekas penderita hepatitis B
  • Hubungan seksual
  • Donor darah dari penderita hepatitis B

Klamidia


Disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis dan menular lewat hubungan seksual.
Tanda-tanda Klamidia tidak selalu jelas dan ada penderita yang terlihat masih sehat-sehat saja, tetapi jika penyakit ini dibiasrkan saja, maka penderita bisa mengalami komplikasi yang serius dan akhirnya tidak ada obatnya.
Perempuan yang terserang Klamidia bisa terpengaruh kesuburannya dan organ reproduksinya dan alhasil, perempuan tersebut menjadi tidak bisa hamil.
Sementara pada laki-laki, penisnya akan mengeluarkan cairan yang ‘tidak diinginkan’ yang mirip seperti lendir.
Klamidia ditularkan melalui hubungan seks yang wajar, oral sex dan anal sex, juga tidak menutup kemungkinan bahwa bayi pun terserang penyakit ini dari sang ibu melalui proses kelahiran normal melalui vagina.
Cara untuk mengatasi Klamidia adalah tetap setia pada pasangannya masing-masing dan memeriksakan diri sebelum menikah, karena berganti-ganti pasangan seks akan membuat resiko tertular Klamidia menjadi lebih besar, dan hal ini disebabkan karena tanda-tanda yang tidak terlihat oleh mata biasa dan penyakit ini juga dapat disebut ‘diam-diam mematikan’ karena gejala tidak bisa dilihat orang lain selain dirinya sendiri dan bahkan penderita Klamidia belum tahu bahwa dirinya tertular.
Setelah 1-3 minggu, perempuan yang terserang Klamidia akan merasakan panas di vagina sewaktu buang air kecil dan keluarnya lendir dari vagina yang ‘tidak diinginkan’ dari vagina, rasa sakit saat berhubungan seks, sakit di bagian pinggang dan bawah perut dan pendarahan di luar masa menstruasi, hal ini disebabkan karena bakteri Klamidia telah menyerang serviks(leher rahim) dan uretra (saluran kencing) juga ke saluran telur dan akhirnya ke saluran pembuangan.
Sementara untuk laki-laki, gejalanya adalah rasa panas sewaktu buang air kecil dan rasa sakit di bagian testikel tetapi jarang terjadi, karena ini penyakit ini benar-benar ‘diam-diam mematikan’
Sesungguhnya Klamidia dapat diobati melalui penanganan yang cepat dan akurat melalui antibiotik dan tidak boleh ditunda-tunda.
Setelah dinyatakan sembuh, sebaiknya dua bulan kemudian diperiksa lagi agar benar-benar sembuh.

Gonorhoe (Kencing Nanah)


Merupakan penyakit berbahaya yang diakibatkan oleh bakteri (Neisseria Gonorrhoea) yang menular melalui hubungan seksual.
Bakteri ini menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan, konjungtiva (bagian putih pada mata) dan dapat menyebar dengan cepat melalui saluran darah sehingga kulit, persendian dan bagian-bagian lain tubuh seperti pinggul dan lama kelamaan akan menimbulkan gangguan pada alat reproduksi bagian dalam seperti rahim dan saluran telur.
Gejala awal pada pria biasanya timbul dalam waktu sekitar 2-7 hari (tergantung daya tahan tubuh) setelah terinfeksi yang berupa rasa tidak enak pada bagian uretra dan beberapa jam kemudian diikuti oleh nyeri ketika mengeluarkan air kecil serta keluarnya darah bersama air kencing.
Sedangkan gejala awal yang terjadi pada wanita terjadi 7-21 hari (tergantung daya tahan) setelah terinfeksi, dan terkadang bisa tidak dirasakan hingga beberapa minggu atau bulan dan baru diketahui jika pasangan hubungan seksualnya tertular. Biasanya hanya bersifat ringan, tetapi dalam beberapa kasus, terjadi juga gejala-gejala yang berat seperti desakan untuk buang air kecil yang berlebihan serta air kencing yang disertai darah, keluarnya cairan dari vagina, rasa nyeri pada saat buang air kecil dan demam, pada wanita, penyakit ini dapat menyerang leher rahim, saluran telur, indung telur dan uretra sehingga menjadi infeksi.
Kencing nanah juga dapat terjadi pada pria homoseksual yang melakukan hubungan seks melalui anus (anal sex), bagian rektum nya lah yang akan terinfeksi oleh virus ini, gejala awalnya adalah rasa sakit pada bagian rektum, nyeri pada saat buang air besar, daerah di sekitar anus akan tampak kasar dan merah serta tinjanya terbungkus oelh lendir dan nanah.
Jika melakukan hubungan sex melalui mulut (oral sex) maka tenggorokan nya lah yang akan terinfeksi oleh Neissera Gonorrhoea dan biasanya akan disebut Gonorhoe tenggorokan (Faringitis gonokokal) yang menimbulkan nyeri pada saat menelan.
Jika cairan yang terinfeksi virus ini terkena mata, maka akan mengakibatkan infeksi luar mata.
Bahkan penyakit ini juga menyerang bayi pada saat proses persalinan sehingga menyebabkan terjadinya pembengkakan pada kedua kelopak mata yang akan mengeluarkan darah dan tampak merah dan jika tidak segera diobati akan mengakibatkan kebutaan.
Penyakit ini dapat disembuhkan dengan suntikan tunggal seftriakson intramuskuler (melalui otot) atau juga bisa dilakukan dengann pemberian antibiotik melalui mulut selama sekitar seminggu. Tetapi jika kencing nanah ini sudah parah, atau menyebar di dalam darah, biasanya akan dirawat di rumah sakit dan pemberian obat melalui pembuluh darah.