Selasa, 23 Agustus 2011

Malaikat Juga Tahu


Dewi Lestari

Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu, bahagiaku pasti
Berbagi, takdir kita selalu
Kecuali, dia kau jatuh hati

Kali ini, hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia, hadir setiap hari
Tak tega, biarkan kau sendiri
Meski seringkali, kau malah asyik sendiri


Reff:
Karna kau tak lihat, terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silahkan kau adu
Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya


Hampamu takkan hilang semalam oleh pacar impian tetapi kesempatan
Untukku, yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri, cintaku lah yang sejati


Reff:
Namun tak kaulihat, terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silahkan kau adu
Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya


Kau selalu meminta terus kutemani
Dan kau selalu bercanda andai wajahku diganti
Takkan kau pergi karena tak sanggup sendiri


Namun tak kaulihat, terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini silahkan kau adu
Malaikat juga tahu aku kan jadi juaranya...

PIlihan Dalam Air Mata

Nggak ada angin, nggak ada hujan, Bella menamparku di pagi hari Sabtu yang cerah dengan matahari yang tampak malu2 di balik awan.
“Bel, apa-apaan ini?” Tanyaku heran “Ingat nggak janji kita semalam?” Bella balik bertanya, astaga! Aku lupa meneleponnya! Pasti Bella sudah menungguku sejak lama! ”Ingat dong janjimu!” Kata Bella dan kemudian ia pergi dari hadapanku.
Aku segera mengejarnya dan berusaha meminta maaf, berbuat baik padanya juga sudah kulakukan, tetapi tetap saja senyum ketusnya yang nampak dan dia terus saja diam, membuatku frustasi! Akhirnya kutinggalkan dia agar dia mendapat waktu untuk berfikir jernih.
Siang hari yang panas mulai datang dan kucoba untuk mengamati Bella, hmm... tampaknya ia masih marah padaku, uuh, konyol banget sih masalahnya? Padahal di hari Sabtu ini aku biasanya jalan-jalan dengan Bella, tapi... karena masalah konyol ini aku hanya bisa mengikuti Bella memasuki gedung olahraga tempat biasanya kami berdua berlatih bulu tangkis, di hari Sabtu ini memang sepi karena liburan panjang yang telah tiba.
Mendadak tanah yang kupijak mulai bergetar, awalnya pelan dan aku pun panik, tetapi aku tidak ingin meninggalkan Bella, akhirnya gempa mulai kuat hingga tanah mulai retak, tetapi mendadak berhenti ”Bella! Bella!” Teriakku berlari ke arah Bella ”Ayo keluar!” Kataku ”Ok, Ven” Jawab Bella yang tampaknya masih saja marah padaku di saat seperti ini, tetapi wajah takut jelas tergambar di wajahnya sat bumi kembali bergetar dan langkahnya yang perlahan itu terhenti, aku malah segera menariknya untuk berlari keluar melalui retakan-retakan yang makin lebar, tetapi gedung olahraga itu sangat tidak mendukung, pintu utama pun terhalang oleh atap yang roboh dan dalam hitungan detik, atappun roboh menimpa kami dan hanya meninggalkan rongga kecil untuk kami.
“Bel, kamu nggak apa-apa kan?” Tanyaku sambil meringkuk di celah itu bersama Bella “Iya Ven, tapi sempit nih” Jawab Bella “Eh, Bel lihat itu!” Kataku sambil berusaha menunjuk ke arah lubang kecil yang menjadi satu-satunya cahaya kami ”Kita bisa keluar lewat sana!” Teriak Bella dengan girang, tetapi mendadak wajahnya kembali cemberut “Tapi Ven, hanya ada satu orang yang bisa keluar” Kata Bella, aku terkejut dengan jawaban Bella, segera kuamati celah kecil itu dan ketika seorang dari kita keluar, jelas-jelasakan menyenggol sebatang besi yang akan menimbulkan reaksi beruntun yang akan menutup lubang tersebut atau parahnya, merobohkan bangunan hingga rata dengan tanah “Aduh Bel, aku nggak mau keluar tanpa kamu” Kataku “Sudahlah Ven, kaluar saja!” Kata Bella dengan suara tergetar, aku tahu ia takut, tetapi mengapa ia berkata demikian? Bukankah dia masih marah padaku?
“Dengar Ven, kamu terjebak di sini kan karena aku, kamu yang harus keluar” kata Bella, dan air mataku pun mengalir saat mendengar sahabatku berkata demikian, padahal beberapa menit lalu kita masih marahan karena hal yang konyol “Bel, kamu bilang apa sih? Kita tunggu saja sebentar, pasti akan ada bantuan!” Kataku sedikit membentak untuk meyakinkan Bella, dan kurasa Bella hanya diam menanggapi sikapku.
Beberapa menit yang panjang telah berlalu dan telah terganti oleh jam-jam menegangkan dalam hidup kami, entah berapa lama kami berada di sana, tetapi dari jam tanganku, kami telah terjebak tanpa bisa bergerak bebas selama hampir 3 jam dan tiada sinyal di handphone kami, suasana di atas yang awalnya ramai menjadi kian sunyi, dan meski kami terus berteriak-teriak tiap ada harapan, tampak tidak membuahkan apa-apa.
“Ven, udah tiga jam nih, kamu keluar sana” Kata Bella, sejujurnya aku mau bertahan labih lama lagi asal Bella selamat, atau lebih baik jika Bella yang keluar, tetapi Bella terus saja memojokkanku, hingga akhirnya aku mengambil langkah pendakian pertama menuju celah itu.
Dengan amat sangat hati-hati aku mulai merangkak naik hingga mencapai lubang itu, aku berhenti sejenak, kamudian mulai keluar dari lubang dan langsung terjatuh ke luar sementara kausku sobek terkena besi penentu yang tak mungkin kuhindari.
Lega dapat menghirup udara segar, tetapi mataku mulai buram, dan terdengar suara kertakan di belakangku, segera saja aku berusaha berdiri meski kakiku terasa amat lemas dan tidak kuperhatikan darah yang mengalir dari tubuhku, aku hanya terfokus pada bangunan yang jatuh menimpa Bella sahabat baikku.
Meski tenagaku terkuras dan darah terus mangalir, aku tetap berusaha mencari Bella dalam reruntuhan itu, kukeluarkan semua tenaga dan pikiranku untuk membuka kayu demi kayu dan batu bata di depanku, aku berusaha berteriak memanggil Bella meski kerongkonganku terasa sakit, dan aku terus berharap pada Tuhan agar Bella tetap hidup saat kutemukan dia.
Pencarianku membuahkan hasil, dapat kulihat Bella tergeletak lemas, tetapi matanya masih memandangku dan senyum kecilnya masih mengarah padaku, aku segera mengulurkan tanganku untuk memegang tangannya sementara tangan kiriku masih terus membuka kayu yang menghalangi, hingga akhirnya ia dapat kutarik keluar.
“Bel, kamu nggak apa-apa?” Tanyaku panik “Nggak tau Ven” Bisiknya lirih, aku nggak tau apa yang harus kulakukan, dan akhirnya aku menggendong Bella menuju rumah sakit yang kuharpkan masih berdiri.
Dengan sisa tenaga terakhirku kubawa sahabatku dalam pangkuan tanganku yang bergemetaran karena lelah “Udah Ven, nggak usah” Bisik Bella pelan “Nggak Bel, aku masih sehat” Kataku sambil tersenyum menutupi fakta yang sebenarnya bahwa tenagaku hampir habis.
Mungkin baru separuh perjalanan, aku hampir pingsan, tetapi tidak kubiarkan Bella menderita, tetapi... kakiku tidak bisa diajak kompromi, aku terjatuh di atas dua lututku dan tetap berdoa agar Tuhan menolong kami.
Kurasa doaku telah Ia dengar, suara sirine ambulance mendatangi kami dan berhenti di samping kami. Yang kuingat saat itu adalah beberapa orang mengenakan baju putih turun dan segera menolong Bella, dan setelah itu... aku tidak tahu apa yang terjadi, sebab mataku telah gelap.
Ketika aku terbangun, yang kulihat adalah langit yang tampak biru seperti biasanya, ah, berarti aku masih di bumi. Segera saja aku duduk dan berusaha berdiri, namun ada seorang wanita cantik yang menyuruhku tetap tenang “Nggak mbak, aku nggak apa-apa” Kataku seraya berdiri dan melihat sekitarku, yang ada hanya kumpulan orang-orang korban gempa dan para relawan “Bella, Bella” Erangku pelan, entah kenapa suaraku tertahan di tenggorokkanku, aku segera berjalan mencari Bella di antara kerumunan orang, kurasa kakiku kali ini cukup dapat diajak kompromi dan suaraku mulai berkerjasama, sekuat tenaga aku memanggil nama Bella, meski kurasa itu tidak cukup keras.
Hingga akhirnya kutemukan Bella sedang duduk dan tampak bingung, kepala, tangan dan kakinya terperban, hampir mirip mumi, hahaha.
Aku segera manghampiri sahabatku dan memeluknya dengan hati-hati seolah tak ingin dia lepas dari pandanganku “Ven, makasih ya, kamu sudah menolongku” Kata Bella “Bukan Bel, ini pertolongan Tuhan” Jawabku dan takingin rasanya kehilangan satu-satunya sahabat terbaikku, yaitu Bella.

by: Kristina Andita Pradani

Jumat, 12 Agustus 2011

Angin Puting Beliung

Ternyata, ada caranya untuk mengetahui kapan angin ini akan datang, menurut beberapa pengalaman penduduk, ada hal-hal janggal yang akan terjadi untuk menunjukkan angin itu akan datang:

1. Amatilah langit, jika selama 3 hari langit cerah yang amat sangat cerah atau tidak berawan samasekali dan awan sekecil apapun di sepanjang hari, maka itu tanda pertama
2. Pada hari ketiga, terbentuk gumpalan awan yang menyerupai sayuran brokoli, jika demikian, maka sore atau malamnya, angin itu akan datang

Meski itu masih kata penduduk setempat, tidak ada salahnya untuk dipercayai.

by: Kristina Andita Pradani

Sabtu, 06 Agustus 2011

Sehatnya Mentari Pagi

Jika pada siang hari kita biasanya menghindari matahari untuk mencegah kanker kulit dan agar kulit kita tidak menjadi hitam karena banyak pigmen yang terbakar.
Di pagi hari, adalah waktu yang sangat tepat untuk menikmati keindahan alam dan merasakan hangatnya sapaan mentari, jangan takut untuk terkena sinar matahari sampai jam 09.00 pagi, karena pada saat itu, sinar matahari pagi bagus untuk tulang.
Jadi, jika ingin tulang yang sehat dan kuat, berjemurlah pada pagi hari, maka anda akan mendapatkan tulang yang kuat dan pertumbuhan tulang yang optimal.
Selain itu, sinar matahari pagi juga membuat kulit terasa segar dan badan terasa bugar, sekaligus mengeluarkan keringat dari racun-racun dalam tubuh selama kita tidur semalaman ataupun begadang semalaman.
Dan sinar matahari pagi mengandung Vitamin D yang dapat menetralkan kandungan gula dalam darah

by: Kristina Andita Pradani

Avril Lavigne - I'm With you

I'm Standing on a bridge

I'm waitin in the dark

I thought that you'd be here by now

Theres nothing but the rain

No footsteps on the ground

I'm listening but theres no sound


Isn't anyone tryin to find me?

Won't somebody come take me home

It's a damn cold night

Trying to figure out this life

Wont you take me by the hand

take me somewhere new

I dont know who you are

but I... I'm with you


im looking for a place

searching for a face

is anybody here i know

cause nothings going right

and everythigns a mess

and no one likes to be alone


Isn't anyone tryin to find me?

Won't somebody come take me home

It's a damn cold night

Trying to figure out this life

Wont you take me by the hand

take me somewhere new

I dont know who you are

but I... I'm with you


oh why is everything so confusing

maybe I'm just out of my mind

yea yea yea


It's a damn cold night

Trying to figure out this life

Wont you take me by the hand

take me somewhere new

I dont know who you are

but I... I'm with you


Take me by the hand

take me somewhere new

I dont know who you are

but I... I'm with you

I'm with you


Take me by the hand

take me somewhere new

I dont know who you are

but I... I'm with you

I'm with you

I'm with you...