Kotak
Tik,.,tik,.,.tik
Waktu berdetik
Tak mungkin bisa ku hentikan
Maumu jadi mauku
Pahitpun itu ku tersenyum
Kamu tak tahu rasanya hatiku
Saat berhadapan kamu
Tik,.,tik,.,.tik,.,.
Air mataku
Biar terjatuh dalam hati
Mau ku tak penting lagi
Biar ku buat bahagiamu
Kamu tak tahu rasanya hatiku
Saat berhadapan kamu
Kamu tak bisa bayangkan rasanya
Jadi diriku, yang masih cinta
Kamu tak tahu hancurnya hatiku
Saat berhadapan kamu
Kamu tak bisa bayangkan rasanya
Jadi diriku, yang masih cinta
Saat kamu bosan, waktunya membuka refreshingblog!! Almost All you need was here... :)
Selasa, 23 Agustus 2011
Maaf Di Balik Kaca
Namanya juga manusia, mesti saja ada salahnya, tapi... kali ini tampaknya aku salah besar, mungkin saja Anne sedang dalam kondisi “bad mood” saat kusiram air di hari ulangtahunnya, meski dia nggak sampai basah kuyup, dia tampak amat marah dan ganti menyiramku dengan ember berisi air hingga aku basah kuyup lalu pergi begitu saja membuatku dan kelima temanku yang lain saling berpandangan heran.
Dugaanku tepat, dia memang marah padaku dan tidak mau kuajak bicara mesti rasanya aku ingin mendengar suaranya, tetap saja tidak ada yang kudengar, aku jadi merasa amat sangat tidak enak, jika menurutku, hal itu kan biasa saja terjadi dan sering terjadi padaku meski aku nggak berulang tahun.
Akhirnya, aku pun membiarkan dia diam hingga dua minggu, ah, sebel aku jadinya, meski demikian, aku juga berusaha tidak menyinggungnya dengan memilih untuk diam juga, padahal, ini kan saat-saat terakhirku bersekolah di sini, dua hari lagi aku akan pindah ke Jogja, perjalananku yang akan berlangsung sekitar 6 jam dari Kalimantan, akan terasa penuh tangisan terutama tanpa maaf dari sahabatku sendiri dan kuharap jika hal ini malah membuat Anne senang karena tidak melihatku, aku pun akan merasa lega juga.
Hari yang tidak kuharapkan terjadi tetap saja terjadi, tidak ada yang dapat menghentikan waktu dan detik yang terus berjalan maju, kurasa Anne tidak tahu kepergianku, atau mungkin saja ia masih marah, yah, akan kusimpan saja nomor teleponnya, mungkin... suatu hari nanti aku bisa mendengar suaranya yang lucu kembali dari Jogja.
Di pagi hari yang tampak cerah itu, hatiku masih kacau tanpa maaf dari Anne, meskipun demikian, aku tetap berangkat menuju ke bandara, tetapi entah aku sadar atau tidak, langkahku terasa amat ringan dan seolah ini sangat menyenangkan, aku pasti benar-benar berkhayal saat itu! Apalagi ketika aku sudah di dalam ruang tunggu, aku melihat Anne berlari menuju ke arahku, pasti ini adalah khayalan tingkat tinggi.
Tetapi... ia mengetuk kaca di hadapanku dengan air matanya yang berlinang, aku segera tersadar dan segera saja aku mengetuk kaca itu kembali “Anne?” Tanyaku, tetapi suaraku tidak dapat ia dengar, dan pada akhirnya ia meniup kaca dan menuliskan satu kata yang tampak buram “Maaf” mungkin itulah yang ia tulis, aku pun hanya bisa mengangguk, kemudian ia mengeluarkan kertas bertuliskan “Aku sayang kamu selamanya” dan itulah moment paling berharga dalam hidupku, tak hentinya kupandangi tulisan itu hingga nomor pesawatku terdengar dan... inilah saatnya aku masuk pesawat, aku hanya bisa melambai pada Anne yang masih berdiri di sana dengan kertas itu hingga ia lenyap dibalik kerumunan.
Kuharap kita akan selalu bersama Anne, atau setidaknya, aku bisa mendengar suaramu di Jogja yang damai ini...
by: Kristina Andita Pradani
by: Kristina Andita Pradani
Dream High
I Dream High nan kkumeul kkujyo
Hindeul ttaemyeon nan nuneul gamgo
Kkumi irweojineun geu sunganeul
Gyesok tteoollimyeo ireonajyo
Duryeoumeui kkeuteseo nan
Oneuldo heundeullijyo
Tteorejilkka bwa naraoreuji mothaneun
Eorin saecheoreom
Jakku naega hal su inna
Nae kkumi irweojilkka
Naeditneun georeum han georeum georeumi dashi
Duryeoweo jil ttaemada
I Dream High nan kkumeul kkujyo
Himdeul ttaemyeon nan nuneul gamgo
Kkumi irweojineun geu sunganeul
Gyesok tteoollimyeo ireonajyo
I can fly high naneun mideoyo
Eonjenganeun jeo haneulwiro
Nalgaereul pyeogo nugubodado
Jayurobge nopi nara oreul geoeyo
Neomeojin nal ireukkyeo jul
Yonggiga phiryohajyo
Meonjireul teolgo dashi ireona tto han beon
Ttwieogal yonggiga
Dashi han beon nareul midgo
Naeui unmyeongeul midgo
Modeun geol geolgo nae kkiboda nopeun byeogeul
Ttwieo neomeulgeoeyo ~Oh
I Dream High nan kkumeul kkujyo ( kkumeul kkujyo )
Himdeul ttaemyeon nan nuneul gamgo
Kkumi irweojineun geu sunganeul
Gyesok tteoollimyeo ( dashi ) ireonajyo ( Oh )
I can fly high naneun mideoyo
Eonjenganeun jeo haneulwiro ( jeo haneulwiro )
Nalgaereul pyeogo nugubodado
Jayurobge nopi ( nan ) nara oreul geoeyo
Dream high a chance to fly high
Apeumdeureun ijen modu da bye bye
Haneure inneun jeo byeoldeul
Cheoreom nopi narabwa ni kkumdeureul
Pyeolchyeo boneun geoya time for you to shine
Ijebuteo shijagiya gotta make ‘em mine
Ni soneuro irweoga mirael duryeoweo hajima
Ijen himkkeot jashinitge georeoga
Destiny sukmyeongiji meomchul su eopneun
Unmyeongi jigeum uri nunape pyeolchyeojiji
Igeon neoreul wihan whole new fantasy
Geureoni ijebuteo yeogi soneul jaba
Urieui mikpyoneun jigeumbuteo hana
Kkumgwa mirae pogi haji anha
Jeolmeum yeoljeong yeogi moduda Dream High
I Dream High nan kkumeul kkujyo ( kkumeul kkujyo )
Himdeul ttaemyeon nan nuneul gamgo ( nuneul gamgo )
Kkumi irweojineun geu sunganeul
Gyesok tteoollimyeo ireonajyo ( Oh )
I can fly high naneun mideoyo ( mideoyo )
Eonjenganeun jeo haneulwiro ( jeo haneulwiro )
Nalgaereul pyeogo nugubodado
Jayurobge nopi nara oreul geoeyo
Lembutnya Duri Mawar
Pancaran terik matahari siang membakar tubuhku, kupercepat langkahku di jalanan sepi ini dan berharap untuk bisa sampai rumah lebih cepat di siang yang terasa seperti hasil kebocoran neraka.
Pikiranku terlalu kacau untuk mendinginkan tubuhku, apalagi saat memikirkan Nana, uh, anak yang sok mengatur-ngatur di kelasku, untung saja ia tidak menjadii ketua kelas, jika iya, pasti kelasku akan berasa seperti neraka, aku pun nggak paham apa sebenarnya maksudny, dan seperti biasa, tentu saja ada yang pro dan kontra, dan aku adalah anak yang masuk dalam golongan kontra.
Ah, untuk apa sih memikirkannya? Lebih baik kan memikirkan hal lain yang lebih enak, seperti es teh manis yang akan kuminum di rumah nanti.
Dan tanpa kusangka, sebuah sepeda tanpa rem melaju cepat ke arahku, kakkiku terpaku di tempatku berdiri meski kucoba melangkahkanku, dan beberapa detik sebelum sepeda itu menabrakku, aku hanya sempat melakukan gerakan refleks membungkuk dan menutupi kepalaku.
Bruaak.... suara tabrakan terdengar, tetapi... aku masih sehat-sehat saja, apa yang terjadi? Aku membuka mataku perlahan dan melihat ke sekelilingku, tampaklah tubuh seorang gadis tergeletak di samping tembok sementara pengemudi sepeda tadi mengerang kesakitan, tampaknya gadis itu telah menyelamatkanku.
Segera saja aku berlari ke arah gadis itu dan betapa terkejutnya aku, gadis itu tak lain tak bukan adalah Nana! Mungkin terik matahari telah benar-benar membakar otakku, tetapi saat kulihat kepalanya berdarah dan tak sadarkan diri, segera saja aku menggendongnya dan berlari membawanya ke rumah sakit terdekat, dan aku tidak lagi memikirkan siapa Nana saat ia di kelas tadi, dan juga pengemudi sepeda yang tampak masih baik-baik saja.
Setibanya di rumah sakit, para suster dengan sigap menolong Nana yang kondisinya tampak amat tidak berdaya, ingin rasanya kembali ke tempat tadi dan menghajar orang tersebut, entah mengapa, aku merasa amat peduli dengan Nana, musuhku sendiri, Duri di dalam kelasku.
Dua jam berlalu, menit-menit yang menegangkan berlalu sangat lambat, akankah harapanku mendapat kepastian? Apakah detik yang terus bergulir akan membawa secercah sinar? Semua kuserahkan pada Tuhan.
Terkejut aku dari lamunanku saat suara seorang dokter merobek belenggu ketidakpastian dari sejuta pertanyaan di benakku “Dok, bagaimana teman saya?” Tanyaku pasrah “Ia mengalami retak di tengkoraknya, untung saja kamu segera membawanya kemari” Jawab Dokter “Bisakah saya masuk?” Tanyaku, dokter hanya mengangguk dan aku segera berlari masuk.
Terhenti aku di depan pintu oleh perasaan lega dan ketakutan, tetapi tanganku memberanikan diri membuka pintu yang terasa amat berat itu.
“Nana?” Bisikku pelan “Iya” Jawab Nana, aku segera tersenyum dan masuk ke dalam ruangan seraya mengambil duduk di dekat pembaringannya “Na, terimakasih ya” Kataku sambil tersenyum “Iya, nggak masalah kok” Kata Nana “Aku juga mau minta maaf, Na” Kataku sambil tertunduk menyesal “Kenapa?” Tanya Nana “Aku... merasa kalau kamu...eh, maksudku aku mengira kamu itu terlalu banyak mengatur” Jawabku “Oh, masalah itu. Tadi Rene, ketua kelas kita, asmanya sempat kambuh sebelum berangkat sekolah, dan anak-anak terlalu ramai, aku takutnya nanti Rene dimarahi guru dan ia pasti kesulitan menenangkan anak-anak” Kata Nana yang membuatku tersentak, pikiranku telah bertindak terlalu ceroboh untuk hal yang tidak-tidak “Na, kamu masih mau kan menjadi sahabatku?” Tanyaku “Tentu” Jawab Nana dengan senyum puas tergambar di wajah putihnya yang cantik, kuharap, persahabatan kita akan abadi dan kini aku akan belajar untuk berhati-hati sebelum berfikiran yang tidak-tidak.
by: Kristina Andita Pradani
by: Kristina Andita Pradani
Malaikat Juga Tahu
Dewi Lestari
Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu, bahagiaku pasti
Berbagi, takdir kita selalu
Kecuali, dia kau jatuh hati
Kali ini, hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia, hadir setiap hari
Tak tega, biarkan kau sendiri
Meski seringkali, kau malah asyik sendiri
Reff:
Karna kau tak lihat, terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silahkan kau adu
Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya
Hampamu takkan hilang semalam oleh pacar impian tetapi kesempatan
Untukku, yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri, cintaku lah yang sejati
Reff:
Namun tak kaulihat, terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silahkan kau adu
Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya
Kau selalu meminta terus kutemani
Dan kau selalu bercanda andai wajahku diganti
Takkan kau pergi karena tak sanggup sendiri
Namun tak kaulihat, terkadang malaikat
Tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini silahkan kau adu
Malaikat juga tahu aku kan jadi juaranya...
Langganan:
Postingan (Atom)


