Tampilkan postingan dengan label KAca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAca. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 Agustus 2011

Di Balik Tirai Biru


Tersirat kenangan di balik tirai biru yang teramat cantik menghiasi teras rumahku, membiaskan cahaya keemasan dari matahari senja yang tampak semu dibalik kerumunan awan.
Aku memandangi foto terakhirku bersama Vena di taman rumahku, dan juga saat kami berjalan-jalan menonton bioskop, tak terasa sudah sepuluh hari semenjak Vena meninggalkanku di sini sendirian, masih kuingat senyumannya yang selalu menemaniku dari balik tirai biru ini.
Aku tau ini yang terbaik untuknya, ia telah sangat menderita semenjak Kanker Uretra menyerangnya sekitar dua bulan yang lalu, pada saat itu Vena sedang dalam kondisi lemah dan sel kanker itu membuat ginjalnya meradang dan ia sangat kesakitan saat akan buang air kecil.
Semenjak itu, aku selalu bersamanya dan menemaninya siang dan malam, mengingat ia adalah anak yatim piatu dan ia tidak memiliki saudara yang mengunjunginya, bahkan aku sempat membolos hingga seminggu untuk menemaninya, dan mataku sudah membengkak akibat kurang tidur dan terlalu banyak menangis.
Doaku selalu terpanjat pada Tuhan Yang Maha Esa agar ia sembuh, tetapi tiap kali ia mulai kuat, kanker itu menyerangnya kembali, tetapi yang aku kagumi darinya adalah, ia tetap teguh berdoa dan memberikan senyuman termanisnya padaku, sayang, ia tidak memiliki banyak sahabat karena ia tidak terlalu lancar dalam berbahasa Indonesia dan bahasanya masih susah dimengerti oleh teman-teman sekelas kami.
Aku sangat menghargai usahanya untuk tetap bersamaku, menjaga agar ia selalu mendengar tawaku, dan aku semakin tidak kuat menahan air mataku tiap kali melihat badannya semakin tampak lemas terbaring di rumah sakit.
Setidaknya, aku bersyukur Vena mendapatkan askes dari asuransi ibunya yang kini pergi entah kemana.
Dan akhirnya, sepuluh hari yang lalu, aku mengikhlaskan ia pergi, tidak akan kutahan meski aku tidak rela, aku lebih tidak tega melihatnya dalam penderitaan ini.
Selamat tinggal Vena, kuharap kau tenang di sana...
:)

by: Kristina Andita Pradani

Selasa, 23 Agustus 2011

Maaf Di Balik Kaca

Namanya juga manusia, mesti saja ada salahnya, tapi... kali ini tampaknya aku salah besar, mungkin saja Anne sedang dalam kondisi “bad mood” saat kusiram air di hari ulangtahunnya, meski dia nggak sampai basah kuyup, dia tampak amat marah dan ganti menyiramku dengan ember berisi air hingga aku basah kuyup lalu pergi begitu saja membuatku dan kelima temanku yang lain saling berpandangan heran.
Dugaanku tepat, dia memang marah padaku dan tidak mau kuajak bicara mesti rasanya aku ingin mendengar suaranya, tetap saja tidak ada yang kudengar, aku jadi merasa amat sangat tidak enak, jika menurutku, hal itu kan biasa saja terjadi dan sering terjadi padaku meski aku nggak berulang tahun.
Akhirnya, aku pun membiarkan dia diam hingga dua minggu, ah, sebel aku jadinya, meski demikian, aku juga berusaha tidak menyinggungnya dengan memilih untuk diam juga, padahal, ini kan saat-saat terakhirku bersekolah di sini, dua hari lagi aku akan pindah ke Jogja, perjalananku yang akan berlangsung sekitar 6 jam dari Kalimantan, akan terasa penuh tangisan terutama tanpa maaf dari sahabatku sendiri dan kuharap jika hal ini malah membuat Anne senang karena tidak melihatku, aku pun akan merasa lega juga.
Hari yang tidak kuharapkan terjadi tetap saja terjadi, tidak ada yang dapat menghentikan waktu dan detik yang terus berjalan maju, kurasa Anne tidak tahu kepergianku, atau mungkin saja ia masih marah, yah, akan kusimpan saja nomor teleponnya, mungkin... suatu hari nanti aku bisa mendengar suaranya yang lucu kembali dari Jogja.
Di pagi hari yang tampak cerah itu, hatiku masih kacau tanpa maaf dari Anne, meskipun demikian, aku tetap berangkat menuju ke bandara, tetapi entah aku sadar atau tidak, langkahku terasa amat ringan dan seolah ini sangat menyenangkan, aku pasti benar-benar berkhayal saat itu! Apalagi ketika aku sudah di dalam ruang tunggu, aku melihat Anne berlari menuju ke arahku, pasti ini adalah khayalan tingkat tinggi.
Tetapi... ia mengetuk kaca di hadapanku dengan air matanya yang berlinang, aku segera tersadar dan segera saja aku mengetuk kaca itu kembali “Anne?” Tanyaku, tetapi suaraku tidak dapat ia dengar, dan pada akhirnya ia meniup kaca dan menuliskan satu kata yang tampak buram “Maaf” mungkin itulah yang ia tulis, aku pun hanya bisa mengangguk, kemudian ia mengeluarkan kertas bertuliskan “Aku sayang kamu selamanya” dan itulah moment paling berharga dalam hidupku, tak hentinya kupandangi tulisan itu hingga nomor pesawatku terdengar dan... inilah saatnya aku masuk pesawat, aku hanya bisa melambai pada Anne yang masih berdiri di sana dengan kertas itu hingga ia lenyap dibalik kerumunan.
Kuharap kita akan selalu bersama Anne, atau setidaknya, aku bisa mendengar suaramu di Jogja yang damai ini...

by: Kristina Andita Pradani